Logo Header Antaranews Jateng

Pameran Lukisan "Resound" Suarakan Kebersamaan Pelukis

Minggu, 5 April 2015 13:44 WIB
Image Print
Ilustrasi- (Foto: ANTARA/Dodo Karundeng/Rei/mes/15.

"Kami ingin mewujudkan semangat kebersamaan melalui pameran bersama ini," kata Cipto Purnomo, pengelola Pawon Art Space Kabupaten Magellang yang juga satu di antara 15 pelukis yang berpameran bersama itu, di Magelang, Minggu.

Pameran sekitar 30 lukisan karya mereka yang alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Angkatan 2001 itu berlangsung mulai dari 5 April hingga 5 Juni 2015 di rumah seni yang terletak sekitar 100 meter dari Candi Pawon.

Mereka yang berpameran itu, yakni Ahmad Sobirin, Arif Sulaiman, Choirudin, Cipto Purnomo, Constantia Rika Hapsari, Dani King Heriyanto, Didit Pratomo, Giring Prihatyasono, Karina Rima Melati, Kartika Prawiro, Mulyo Gunarso, M. Aidi Yupri, Ruli Rahim, Slamet Haryadi, dan Stevan Sixcio Kresonia.

Pembukaan pameran ditandai dengan prosesi jalan kaki oleh para pelukis dari Candi Pawon menuju Pawon Art Space dengan performa musik truntung dan pengiring para penari Kinara Kinari pimpinan seniman setempat, Eko Sunyoto.

Penyair Forum Kilometer Nol Borobudur Kabupaten Magelang Damtoz Andreas yang membuka pameran tersebut sebelumnya membacakan dua puisi, masing-masing berjudul "Sirine Menjerit di Antara Dua Susu" dan "Ode Buat Cyntia Lamusu".

Tampak hadir pada kesempatan itu, antara lain Koordinator Komunitas Seniman Indonesia Borobudur (KSBI) Umar Chusaeni, pemilik Galeri Tuk Songo Dedy Paw, pegiat kelompok Gabungan Seniman Borobudur (Gasebo) Yogi Setyawan, pemilik Galeri Banyu Bening Borobudur Suitbertus Sarwoko, pelukis Borobudur Untung K.S., dan Yuyun.

Sejumlah karya yang mereka pamerkan, antara lain berjudul "Jadilah Terang Dunia" (Rika), "Zero Volume" (Stevan), "Jeruji-Jeruji Kertas" (Aidi), "Human Selection" (Didit Pratomo), "Belantara" (Rima), "Batara Guru" (Giring), "Sang Siti" (Dani), dan "How Beautiful" (Choirudin).

"Pameran ini memperdengarkan kembali spirit untuk bangkit bersama dalam wujud karya. Sesuai dengan kapasitas kelompok, kami ingin berbuat sesuatu, memberi inspirasi tentang keragaman ekspresi sebagai bentuk toleransi visual antarindividu pada era kesadaran multikultural ini," kata Cipto.

Ia mengemukakan bahwa kesanggupan untuk bersikap arif dan bijaksana dengan saling menghargai dalam suatu komunitas tertuang dalam penggarapan pameran dan berbagai karya lukis yang dipamerkan dengan berbagai langgam, seperti realis, surealis, dan dekoratif.

"Kami menyadari tentang tuntutan untuk lebih bijak dan saling menghargai dalam sebuah komunitas dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, tetapi mempunyai visi yang sama," katanya.



Pewarta:
Editor: Mugiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026