Semarang (ANTARA) - Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR meminta Kampus Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK-Tekstil Solo) untuk melakukan inovasi baru, termasuk untuk pengembangan mesin, agar dapat meningkatkan kualitas kerja lulusannya.

“Sementara industri kerja sudah pakai mesin modern, jadi mereka (lulusan AK-Tekstil) belum siap pakai. Ini juga jadi tantangan kita, memang kita mengerti efisiensi yang dilakukan di pemerintah untuk membeli mesin-mesin itu agak sulit,  bagaimana Kementerian Perindustrian bekerja dengan industri apakah para mahasiswa di sini diberikan magang di industri kan bisa, mempelajari teknik yang ada,” kata Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI Evita Nursanty ke AK-Tekstil Solo, Jawa Tengah, Jumat (22/5).

Komisi VII DPR RI mengunjungi Kampus Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK-Tekstil Solo) untuk menggali masalah terkait sumber daya manusia (SDM) di sektor industri.

“Tadi kami menyimak apa yang disampaikan kepala badan (Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kementerian Perindustrian) dan Direktur AK-Tekstil bahwa masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh politeknik ini,” kata Evita.

Menurutnya, sampai dengan saat ini jumlah mahasiswa di kampus vokasi tersebut masih minim dan belum sebanding dengan jumlah dosen serta sarana dan prasarana yang ada. Dari data yang ada, jumlah mahasiswa satu angkatan sebanyak 90 orang di AK-Tekstil Solo, sedangkan jumlah dosen ada 30 orang dengan jumlah tenaga pendidikan ada 42 orang.

“Kita tidak kekurangan dosen maupun tim pengajar, berarti memang kerja Politeknik AK-Tekstil ini harus bekerja lebih keras lagi, kenapa anak-anak itu kurang berminat untuk masuk ke AK-Tekstil ini,” katanya.

Dari sisi jenjang pendidikan, ia juga berharap agar dilakukan peningkatan untuk semua program studi.

“Mayoritas mahasiswa kita D2, padahal yang dibutuhkan D4 bahkan S1 dan S2. Maka politeknik harus mengupgrade prodi yang ada,” katanya.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi mengatakan kedatangan Tim Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke AK-Tekstil untuk memperoleh data riil terkait pendidikan yang ada di AK-Tekstil Solo.

“Tadi ada asosiasi, industri, ada dari pendidikan. Tadi juga sudah jelas dan komplit semua masalah sudah disampaikan, masukan, arahan, dan penajaman dari Komisi VII,” katanya.

Mengenai masukan soal rebranding, dikatakannya, perlu dikaitkan dengan kebutuhan industri.

“Tadi kan peralatan (usia alat) sudah 15 tahun, ini harus kami sesuaikan, kemudian juga ada link and match dengan dunia industri, ada program magang di industri. Ini bagian dari cara kami menyamakan output,” katanya.

Direktur AK-Tekstil Solo Wawan Ardi Subakdo mengatakan saat ini tengah aktif menjajaki kemungkinan kerja sama program beasiswa yang bisa dikeluarkan oleh pemerintah daerah yang di wilayahnya terdapat pabrik tekstil.

“Program beasiswa sedang berjalan yang akan terus dukung kebutuhan industri di Solo Raya. Wilayah yang ada industrinya kami datangi pemdanya, kami jajaki. Kemarin kami mulai dari Dinas Perindustrian dan Dinas Tenaga Kerja. Harapannya kami bisa bertemu dengan bupati dan wali kota yang ada di sana,” katanya.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah Samuel Hartono yang juga hadir dalam acara tersebut memberikan masukan terkait jenjang pendidikan serta penambahan program studi di AK-Tekstil Solo.

“Masukan saya agar bisa dibuka program D4 atau S1, karena kalau masih D2 tentu kita kalah dari SDM negara tetangga. Di China bahkan banyak lulusan S3 dari sektor ini,” katanya.

Selain itu, ia juga berharap ada penambahan Program Studi Pencelupan dan Kimia Tekstil.

“Ini paling penting karena merupakan kunci, tekstil itu ya kimia tekstil,” katanya.

Baca juga: Pemkot Surakarta sediakan beasiswa kepada 100 orang di AK-Tekstil Solo