Solo (ANTARA) - Perusahaan penyelenggara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi OVO Finansial memberikan edukasi kepada para mahasiswa di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta lewat Fintech Academy.

Direktur Utama OVO Finansial Riady Nata di  Solo, Jawa Tengah, Rabu mengatakan Fintech Academy by OVO Finansial bersama MoneyFestasi menggelar program edukasi finansial bertajuk Fintech for Future: Membangun Literasi dan Keamanan Pendanaan Digital Generasi Muda di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, Rabu. 

Ia mengatakan mahasiswa bukan hanya pengguna layanan pendanaan digital, tetapi juga calon pelaku ekonomi masa depan.

“Pendanaan digital membuka peluang yang besar bagi generasi muda untuk mengakses layanan keuangan secara lebih mudah. Namun, kemudahan ini harus diikuti dengan pemahaman yang baik dan kritis mengenai keamanan digital,” katanya.

Ia mengatakan pengguna harus tahu cara menjaga data pribadi, membedakan platform yang legal dan ilegal, serta mengenali modus kejahatan siber yang kian
kompleks.

Riady juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah panik jika menghadapi pesan atau aktivitas mencurigakan yang mengatasnamakan platform OVO Finansial.

“Kami mendorong masyarakat untuk selalu skeptis terhadap komunikasi yang tidak bisa diverifikasi asal-usulnya. Jangan sampai kepanikan justru dimanfaatkan oleh pelaku fraud untuk menipu pengguna,” katanya.

Terkait hal itu, pihaknya mengimbau agar para pengguna selalu melakukan verifikasi melalui jalur komunikasi resmi OVO Finansial.

Sementara itu, dikatakannya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa per Maret 2026, kelompok usia 19-34 tahun mendominasi pendanaan macet di industri pinjaman daring dengan porsi mencapai 48,65 persen.

Artinya, hampir separuh pendanaan macet di industri pinjaman online berasal dari kelompok usia produktif muda. Menurut dia, ini menjadi sinyal peningkatan akses keuangan perlu berjalan beriringan dengan literasi, keamanan digital, dan kemampuan mengambil keputusan finansial secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, ancaman seperti pinjaman online ilegal, fraud digital, social engineering, penyalahgunaan data pribadi, hingga rendahnya pemahaman dalam mengelola keuangan pribadi kian mengintai generasi muda yang aktif menggunakan layanan digital dalam kesehariannya.

Pada kesempatan yang sama, Dosen FEB UNS Dila Maghrifani menekankan pentingnya peran kampus dalam membangun pemahaman dan membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis di era cashless.

“Literasi keuangan digital tidak hanya berbicara tentang kemampuan menggunakan aplikasi atau layanan digital, tetapi juga memahami risiko, menjaga data pribadi, dan mengambil keputusan secara rasional. Jangan sampai kemudahan transaksi digital ini malah membuat kita terjebak boros hanya demi mengejar gengsi atau tren sesaat,” katanya.

Financial Planner Debora Aprianita mengingatkan pentingnya kebiasaan finansial yang sehat di tengah kemudahan akses layanan digital. Menurutnya, generasi muda perlu memahami kondisi keuangan pribadi sebelum menggunakan layanan pendanaan digital, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan, menghitung kemampuan bayar, serta menghindari keputusan finansial impulsif.

“Sebelum menggunakan layanan pendanaan digital, anak muda perlu bertanya pada diri sendiri, apakah ini kebutuhan, apakah mampu membayar kembali, dan apakah layanan yang digunakan legal serta terpercaya. Literasi finansial yang baik akan membantu mereka memanfaatkan layanan digital secara lebih bijak,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Fintech Academy by OVO Finansial bersama MoneyFestasi mendorong mahasiswa untuk menjadi pengguna layanan keuangan digital yang lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Edukasi mengenai pendanaan digital diharapkan tidak hanya membantu
generasi muda terhindar dari risiko pinjaman ilegal dan fraud digital, tetapi juga memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem teknologi finansial yang terpercaya, inklusif, dan berkelanjutan.

Setelah Surakarta dan Purwokerto, rangkaian roadshow Fintech Academy yang berkolaborasi dengan MoneyFestasi akan berlanjut ke sejumlah kampus lain, termasuk Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada Agustus 2026. 

Melalui rangkaian ini, OVO akan menjangkau lebih dari 1.200 mahasiswa di berbagai kampus sepanjang 2026. Jumlah ini akan menambah total partisipan
Fintech Academy sejak pertama kali diluncurkan menjadi lebih dari 6.200 mahasiswa di seluruh Indonesia. Di UNS, kegiatan juga dihadiri oleh Fintech Academy kali ini menghadirkan Mekhdi Ibrahim Johan selaku Head of Public Aairs OVO Finansial.