Solo (ANTARA) - Mahasiswa Magister Fisioterapi tengah menjalani program student mobility internasional di Mahidol University, Thailand.
Program student mobility ini merupakan bagian dari kurikulum wajib Magister Fisioterapi UMS, sehingga tidak melalui proses seleksi. Seluruh mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan kompetensi global.
Salah satu peserta Arini Nur Hidayati, menjelaskan total mahasiswa dalam satu angkatan berjumlah 17 orang, namun yang mengikuti kegiatan di Thailand sebanyak 16 mahasiswa.
“Satu mahasiswa berhalangan dan akan mengikuti program serupa di tahun berikutnya,” ungkapnya, Selasa.
Program ini dilaksanakan selama dua minggu di Kampus Salaya, klinik fisioterapi Pinklo, klinik fisioterapi Salaya dan rumah sakit Siriraj, Thailand, dengan total hari efektif sepuluh hari kerja berlangsung dari hari Senin-Jumat. Kegiatan berfokus pada pembelajaran akademik, clinical practice, serta penguatan kapasitas riset mahasiswa.
Selain mengikuti perkuliahan di Mahidol University, mahasiswa juga terlibat dalam konferensi internasional bertajuk International Physical Therapy Conference and Research (IPTSR).
Kegiatan ini diselenggarakan di Chulalongkorn University, Bangkok, di mana empat mahasiswa UMS mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam bentuk oral presentation dan poster presentation.
“Setelah kegiatan konferensi, kami melanjutkan program student mobility di Mahidol University. Saat ini kami sudah memasuki minggu kedua pelaksanaan,” ujar Arini.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa merasakan perbedaan signifikan antara sistem pembelajaran di Thailand dan Indonesia. Arini menyebutkan bahwa fasilitas penelitian di Mahidol University sangat lengkap dan mendukung aktivitas riset mahasiswa.
“Banyak alat yang sebelumnya belum pernah kami temui di Indonesia, termasuk di UMS. Selain itu, penyampaian materi juga sangat detail dan sistematis,” jelasnya.
Sementara itu, Muhammad Mukhlis Cahyadi menambahkan akses terhadap dana hibah penelitian di Thailand relatif lebih luas dan mudah diakses. Hal ini dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong produktivitas riset mahasiswa.
“Di Indonesia sebenarnya juga ada, tetapi saat ini cukup kompetitif sehingga lebih menantang untuk diperoleh,” tambah Mukhlis sapaan karibnya.
Tidak hanya kegiatan akademik, mahasiswa juga mengikuti berbagai aktivitas nonakademik seperti cultural trip yang bertujuan memperkenalkan budaya lokal serta mempererat interaksi dengan mahasiswa setempat.
Selama berada di Thailand, mahasiswa juga menghadapi beberapa tantangan adaptasi. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang cukup ekstrem, terutama suhu panas di siang hari yang disertai angin panas. Selain itu, keterbatasan makanan halal menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa muslim.
Dalam hal ibadah, mahasiswa perlu menyesuaikan waktu karena jam istirahat yang relatif singkat, yakni sekitar satu jam. Selain itu, fasilitas tempat ibadah juga tidak tersedia di banyak lokasi, sehingga membutuhkan penyesuaian dalam pelaksanaannya.
Meski demikian, mahasiswa menilai tingkat toleransi masyarakat Thailand sangat baik.
“Masyarakatnya ramah, terbuka, dan menghargai perbedaan, sehingga kami merasa aman selama menjalankan aktivitas di sini,” ungkap Mukhlis.
Melalui program ini, mahasiswa berharap dapat memperluas wawasan, meningkatkan pengalaman internasional, serta mengadopsi praktik terbaik yang dapat diterapkan di Indonesia.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh di sini dapat kami bagikan dan terapkan untuk pengembangan fisioterapi di Indonesia,” pungkas Mukhlis.
Program ini dijadwalkan berakhir pada 7 Mei 2026, sementara kepulangan mahasiswa ke Indonesia direncanakan pada 10 Mei 2026.