Kudus (ANTARA) - Sebanyak 1.942 anak usia dini di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mendapat penguatan stimulasi fisik dan motorik sebagai upaya menumbuhkan budaya gerak sejak dini melalui pelatihan, pendampingan, integrasi aktivitas fisik dalam rutinitas sekolah serta kelas pengasuhan.

"Stimulasi fisik motorik merupakan bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang anak. Selain belajar bersama guru di sekolah, stimulasi fisik motorik juga salah satu wujud nyata cinta dan perhatian kita untuk anak-anak," kata Bunda PAUD Kabupaten Kudus Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris saat menghadiri kegiatan PAUD Cerdas Bergerak di GOR Djarum Arena, Kaliputu Kudus, Jumat.

Ia berharap orang tua dapat menjadi lini terdepan dalam mendukung perkembangan anak sehingga kelak mereka tumbuh menjadi generasi unggul, tangguh, dan mandiri.

Program PAUD Cerdas Bergerak yang disponsori Bakti Pendidikan Djarum Foundation digelar di Kudus karena adanya tren rendahnya aktivitas fisik anak di Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia di atas usia 10 tahun kurang beraktivitas fisik. Survei OECD di Kudus menemukan 55 persen remaja usia 15 tahun hanya berolahraga sekali seminggu atau tidak sama sekali, angka tertinggi dari 14 kota global yang disurvei.

Gelaran yang berlangsung 5–7 Desember itu melibatkan ribuan anak dan orang tua dari 15 satuan PAUD. Program ini mengajak keluarga dan sekolah berkolaborasi membangun budaya gerak aktif sejak usia dini.

Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Felicia Hanitio, menyampaikan bahwa aktivitas fisik memiliki peran penting dalam membangun fondasi belajar anak.

"Anak yang aktif mengembangkan keterampilan fisik dan motoriknya memiliki fondasi kuat untuk belajar dan tumbuh optimal. Kami ingin memastikan intervensi sejak usia dini dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan," ujarnya.

Program ini pertama kali diintervensikan pada 2024 dengan melibatkan 45 guru dan 659 anak dari lima PAUD. Tahun 2025 cakupan diperluas, melibatkan 100 guru dan 1.942 peserta didik dari 10 PAUD, yang mendapatkan pendampingan sejak akhir Juni hingga awal Desember 2025.

Dalam dua tahun perjalanan program, terlihat hasil signifikan. Kapasitas guru meningkat, partisipasi anak dalam aktivitas fisik bertambah, dan durasi bergerak naik dari rata-rata 1-2 jam menjadi minimal 3-4 jam per minggu. Kemampuan fisik anak yang sebelumnya berada pada kategori sangat rendah kini meningkat ke kategori sedang. Dampak lainnya termasuk meningkatnya fokus belajar, rasa percaya diri, serta kemampuan kerja sama anak.

Pada kegiatan kali ini, sekolah, guru, orang tua, dan para mitra dapat melihat langsung berbagai contoh stimulasi fisik motorik yang sederhana namun menyenangkan untuk diterapkan di sekolah maupun di rumah.

Salah satu orang tua peserta, Andreas Tri Budi, mengaku merasakan manfaat nyata program tersebut.

"Sejak mengikuti program ini, anak saya terlihat jauh lebih aktif, keseimbangan badannya pun lebih baik, dan dia lebih leluasa saat bermain bersama teman-temannya. Saya rasa ini kegiatan yang sangat positif bagi tumbuh kembang anak," katanya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus Shony Wardana menyambut baik pelaksanaan program tersebut.

Ia menilai selain kebutuhan gizi, anak-anak juga perlu dikenalkan pada aktivitas fisik dan motorik sejak dini.

"Semoga program ini bisa terus berkembang dan dapat diterapkan juga di sekolah-sekolah PAUD lainnya," ujarnya.


Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Immanuel Citra Senjaya
Copyright © ANTARA 2026