Disdag Semarang pantau harga daging ayam
Rabu, 19 Juli 2023 6:37 WIB
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto. (ANTARA/Zuhdiar Laeis)
Semarang (ANTARA) - Dinas Perdagangan Kota Semarang terus memantau harga komoditas pangan strategis, khususnya daging ayam yang sampai saat ini harganya masih bertahan tinggi di hampir seluruh daerah.
"Saya minta kepala pasar kalau ada kenaikan (harga, red.) yang signifikan lapor Disdag," kata Pelaksana Tugas Kepala Disdag Kota Semarang Fajar Purwoto di Semarang, Selasa.
Hal tersebut disampaikannya di sela kunjungan Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Anggia Erma Rini memantau harga komoditas pangan di Pasar Karangayu Semarang.
Menurut dia, penyebab harga daging ayam masih bertahan tinggi beragam, antara lain pasokan sedikit sedangkan permintaan masyarakat banyak, kemudian dipengaruhi juga dengan kenaikan harga pakan.
Sejauh ini, Disdag memantau perkembangan harga komoditas pangan strategis, terutama daging ayam, dan akan melakukan kajian mengenai dilakukannya operasi pasar.
"Nanti kami akan evaluasi dan komunikasi dengan Dinas Ketahanan Pangan untuk melakukan operasi pasar. Jadi, kami akan jaga pasar-pasar ini relatif stabil semua harganya (komoditas, red.)," katanya.
Ia menyebutkan secara umum harga komoditas pangan strategis di pasar tradisional di Kota Semarang masih relatif stabil meskipun ada perbedaan harga, misalnya antara pasar besar dan pasar kecil.
Namun, kata dia, selisih harga jual komoditas tidak terlampau besar, misalnya antara yang dijual di Pasar Karangayu yang dekat pusat kota dengan pasar tradisional di kawasan pinggiran kota.
Dari hasil pantauan harga di Pasar Karangayu Semarang itu, Komisi IV DPR RI menemukan harga komoditas daging ayam di Kota Atlas masih bertahan tinggi, sebagaimana daerah-daerah lainnya.
"(Daging, red.) Ayam sangat tinggi. Sebelum Lebaran (Idul Adha, red.) cuma Rp32.000 per kilogram, sekarang sampai Rp40.000 per kg. Di beberapa kota lain sama aja. Hanya ayam saja yang paling tinggi," kata Anggia Erma Rini.
Menurut dia, kenaikan harga komoditas pangan bisa berdampak positif terhadap peternak atau petani, tetapi jika terlampau meroket juga memberatkan masyarakat dan daya beli menjadi berkurang.
Karena itu, ia akan meminta pemerintah pusat dan daerah untuk mencari jalan tengah agar harga di pasaran tidak terlalu tinggi, namun tetap menguntungkan petani atau peternak.
"Mungkin ada jalan tengah agar tidak terlalu mahal. Kalau Rp40.000 itu terasa mahal mungkin bisa diturunkan. Nanti kami akan diskusi lagi lebih lanjut supaya diturunkan. Tapi tentu tidak sangat turun sekali," katanya.
"Saya minta kepala pasar kalau ada kenaikan (harga, red.) yang signifikan lapor Disdag," kata Pelaksana Tugas Kepala Disdag Kota Semarang Fajar Purwoto di Semarang, Selasa.
Hal tersebut disampaikannya di sela kunjungan Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Anggia Erma Rini memantau harga komoditas pangan di Pasar Karangayu Semarang.
Menurut dia, penyebab harga daging ayam masih bertahan tinggi beragam, antara lain pasokan sedikit sedangkan permintaan masyarakat banyak, kemudian dipengaruhi juga dengan kenaikan harga pakan.
Sejauh ini, Disdag memantau perkembangan harga komoditas pangan strategis, terutama daging ayam, dan akan melakukan kajian mengenai dilakukannya operasi pasar.
"Nanti kami akan evaluasi dan komunikasi dengan Dinas Ketahanan Pangan untuk melakukan operasi pasar. Jadi, kami akan jaga pasar-pasar ini relatif stabil semua harganya (komoditas, red.)," katanya.
Ia menyebutkan secara umum harga komoditas pangan strategis di pasar tradisional di Kota Semarang masih relatif stabil meskipun ada perbedaan harga, misalnya antara pasar besar dan pasar kecil.
Namun, kata dia, selisih harga jual komoditas tidak terlampau besar, misalnya antara yang dijual di Pasar Karangayu yang dekat pusat kota dengan pasar tradisional di kawasan pinggiran kota.
Dari hasil pantauan harga di Pasar Karangayu Semarang itu, Komisi IV DPR RI menemukan harga komoditas daging ayam di Kota Atlas masih bertahan tinggi, sebagaimana daerah-daerah lainnya.
"(Daging, red.) Ayam sangat tinggi. Sebelum Lebaran (Idul Adha, red.) cuma Rp32.000 per kilogram, sekarang sampai Rp40.000 per kg. Di beberapa kota lain sama aja. Hanya ayam saja yang paling tinggi," kata Anggia Erma Rini.
Menurut dia, kenaikan harga komoditas pangan bisa berdampak positif terhadap peternak atau petani, tetapi jika terlampau meroket juga memberatkan masyarakat dan daya beli menjadi berkurang.
Karena itu, ia akan meminta pemerintah pusat dan daerah untuk mencari jalan tengah agar harga di pasaran tidak terlalu tinggi, namun tetap menguntungkan petani atau peternak.
"Mungkin ada jalan tengah agar tidak terlalu mahal. Kalau Rp40.000 itu terasa mahal mungkin bisa diturunkan. Nanti kami akan diskusi lagi lebih lanjut supaya diturunkan. Tapi tentu tidak sangat turun sekali," katanya.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sumanto ajak petani Karanganyar beternak ayam untuk tingkatkan penghasilan
01 October 2025 18:21 WIB
Produksi telur ayam di temanggung capai 70 ton per hari, melebihi kebutuhan lokal
22 September 2025 16:29 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Potensi besar VKTR bangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional di Jateng
11 May 2026 20:09 WIB