Kudus (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mencatat dari 45 badan usaha milik desa (BUMDes) terdapat dua BUMDes yang mampu menyumbang pendapatan asli desa (PADes) setempat.

"Kedua BUMDes yang mampu menyumbangkan PADes itu berasal dari Desa Gondosari (Kecamatan Gebog) dan Desa Garung Lor (Kecamatan Kaliwungu)," kata Kasi Usaha Ekonomi Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kudus Diniar Fauziah di Kudus, Jumat.

Usaha yang dijalankan oleh BUMDes di kedua desa tersebut, kata dia, hampir sama.

BUMDes di Desa Gondosari bergerak di bidang usaha pengambilan sampah dari rumah-rumah warga. Usaha itu dikembangkan untuk mengolah sampah yang ditampung dari masyarakat itu menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Sementara itu di Desa Garung Lor, imbuh dia, juga sama-sama melayani pengambilan sampah rumah tangga. Namun desa tersebut juga memiliki bidang usaha yang lain, di antaranya, ada air bersih, parkir, penyewaan gedung yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, serta layanan pembayaran PBB.

Dalam rangka meningkatkan perkembangan usaha di tiap desa yang sudah memiliki BUMDes, dilakukan pendataan dengan melakukan klasifikasi mulai dari dasar, tumbuh, berkembang, dan maju. Langkah selanjutnya melakukan revitalisasi kelembagaan dan usahanya.

Kata dia, banyak desa yang sudah memiliki BUMdes, tetapi usahanya belum berjalan atau sudah pernah berjalan kemudian berhenti. Sedangkan untuk merevitalisasi badan usaha desa tersebut pihaknya menggandeng pihak swasta.

"Kami juga akan melakukan peningkatan kapasitas pengelolaan dalam hal tata usaha dan pelaporannya agar sesuai regulasi serta memfasilitasi pengelolaan aset desa agar bisa dikelola BUMdes," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gondosari Alia Himawati membenarkan bahwa BUMDes di desanya sudah bisa menyumbangkan PADes sejak 2019 setelah menunggu selama satu tahun karena pengelolaan sampah rumah tangga mulai dirintis sejak akhir tahun 2017.

Awalnya, kata dia, sumbangan yang diterima desa pada tahun 2019 sebesar Rp5 juta, kemudian tahun berikutnya naik menjadi Rp6 juta dan saat pandemi melonjak menjadi Rp32 juta karena menerima proyek untuk menyuplai kebutuhan pokok masyarakat untuk tiga kecamatan.

Upaya pengembangan usaha juga tengah dilakukan dengan mengolah sampah yang terkumpul menjadi pupuk kompos serta gas yang bisa dimanfaatkan untuk memasak. Hanya saja, karena masih rintisan sehingga belum bisa dimanfaatkan masyarakat  luas.

Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Teguh Imam Wibowo
Copyright © ANTARA 2026