Kenali beda rasa sedih biasa dengan gangguan mental
Jumat, 26 Maret 2021 11:48 WIB
Ilustrasi pria alami stres. ANTARA/Pixabay
Jakarta (ANTARA) - Dinamika hidup membuat setiap manusia pasti pernah merasakan kesedihan, tapi waspada bila ternyata yang terjadi sebetulnya gangguan kesehatan mental, kata psikolog klinis dewasa Muthmainah Mufidah dari Universitas Indonesia.
Dia menjelaskan, rasa sedih yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari biasanya tidak terlalu berpengaruh kepada aktivitas.
"Kalau down sehari-hari biasanya kita masih tetap bisa mengerjakan tugas atau kegiatan sehari-hari kita, meski mungkin ada perubahan kecepatan atau jumlah," kata Mufidah kepada ANTARA, Jumat.
Manusia yang bersifat dinamis pasti pernah mengalami naik turun dalam kehidupan. Ada hal-hal yang membuat hati berbunga-bunga dan bahagia, tapi di sisi lain ada juga kejadian yang membuat murung, sedih atau marah.
Hati-hati bila rasa sedih yang melanda sudah berdampak terhadap produktivitas dan kehidupan sehari-hari, terutama bila sudah terjadi selama dua pekan berturut-turut. Segera minta bantuan profesional kepada psikolog atau psikiater agar masalah segera ditangani.
Mana yang lebih dulu didatangi, apakah psikolog dan psikiater?
"Sebetulnya tidak masalah yang mana duluan kok," ucapnya.
Co-founder Arsanara Development Partner mengatakan keduanya punya tujuan yang sama, membantu orang mengatasi masalah kesehatan mental. Jika dibutuhkan, keduanya bisa saling rujuk.
Perbedaan yang utama adalah psikiater adalah dokter yang punya wewenang untuk memberikan resep obat kepada pasien bila memang dibutuhkan. Sementara itu, psikolog lebih fokus kepada aspek-aspek perubahan tingkah laku. Psikolog juga fokus kepada pengelolaan pola pikir dan perasaan.
Namun sebetulnya Anda tidak perlu harus menunggu munculnya gangguan kesehatan mental sebelum pergi ke psikolog atau psikiater. Berkonsultasi bisa dilakukan kapan saja, bahkan ketika Anda tidak merasa punya masalah.
"Bisa untuk tujuan mengembangkan diri," imbuh dia.
Sebuah laporan Risiko Global 2021 (Global Risks Report 2021) yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) bersama Zurich Insurance Group (Zurich) menemukan, sebanyak 80 persen anak muda di seluruh dunia tercatat mengalami penurunan kondisi kesehatan mental selama pandemi COVID-19.
Laporan yang menyoroti risiko dampak pandemi COVID-19 pada kesehatan mental generasi muda itu juga menemukan, kekecewaan yang dirasakan anak muda (youth disillusionment) dan memburuknya kesehatan mental (mental health deterioration) sebagai risiko global yang paling terabaikan selama pandemi.
Dia menjelaskan, rasa sedih yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari biasanya tidak terlalu berpengaruh kepada aktivitas.
"Kalau down sehari-hari biasanya kita masih tetap bisa mengerjakan tugas atau kegiatan sehari-hari kita, meski mungkin ada perubahan kecepatan atau jumlah," kata Mufidah kepada ANTARA, Jumat.
Manusia yang bersifat dinamis pasti pernah mengalami naik turun dalam kehidupan. Ada hal-hal yang membuat hati berbunga-bunga dan bahagia, tapi di sisi lain ada juga kejadian yang membuat murung, sedih atau marah.
Hati-hati bila rasa sedih yang melanda sudah berdampak terhadap produktivitas dan kehidupan sehari-hari, terutama bila sudah terjadi selama dua pekan berturut-turut. Segera minta bantuan profesional kepada psikolog atau psikiater agar masalah segera ditangani.
Mana yang lebih dulu didatangi, apakah psikolog dan psikiater?
"Sebetulnya tidak masalah yang mana duluan kok," ucapnya.
Co-founder Arsanara Development Partner mengatakan keduanya punya tujuan yang sama, membantu orang mengatasi masalah kesehatan mental. Jika dibutuhkan, keduanya bisa saling rujuk.
Perbedaan yang utama adalah psikiater adalah dokter yang punya wewenang untuk memberikan resep obat kepada pasien bila memang dibutuhkan. Sementara itu, psikolog lebih fokus kepada aspek-aspek perubahan tingkah laku. Psikolog juga fokus kepada pengelolaan pola pikir dan perasaan.
Namun sebetulnya Anda tidak perlu harus menunggu munculnya gangguan kesehatan mental sebelum pergi ke psikolog atau psikiater. Berkonsultasi bisa dilakukan kapan saja, bahkan ketika Anda tidak merasa punya masalah.
"Bisa untuk tujuan mengembangkan diri," imbuh dia.
Sebuah laporan Risiko Global 2021 (Global Risks Report 2021) yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) bersama Zurich Insurance Group (Zurich) menemukan, sebanyak 80 persen anak muda di seluruh dunia tercatat mengalami penurunan kondisi kesehatan mental selama pandemi COVID-19.
Laporan yang menyoroti risiko dampak pandemi COVID-19 pada kesehatan mental generasi muda itu juga menemukan, kekecewaan yang dirasakan anak muda (youth disillusionment) dan memburuknya kesehatan mental (mental health deterioration) sebagai risiko global yang paling terabaikan selama pandemi.
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seminar internasional di UMS angkat peran agama dalam kesehatan mental muslim
30 March 2026 17:26 WIB
Hadirkan dr. Aisah Dahlan, UMS gelar seminar self-healing dan kesehatan mental
29 March 2026 19:37 WIB
Anggota DPR RI mengajak kader PMII untuk peduli terhadap kesehatan mental remaja
05 March 2026 8:41 WIB
UMS perkuat ketahanan finansial dan mental Diaspora Indonesia di Jepang melalui program Mindful Spending
20 February 2026 18:32 WIB
TP Posyandu Jateng gandeng Psikologi Undip perkuat layanan kesehatan mental
23 January 2026 20:08 WIB
Tim FK UMS gandeng Puskesmas Gatak gelar cek kesehatan gratis dan edukasi mental bagi siswa SMK
08 January 2026 12:40 WIB
HMP PAI UMS adakan Training Education 2025 untuk tempa mental dan kapasitas kader
01 December 2025 21:24 WIB
1.258 mahasiswa ikuti BCA Berbagi Ilmu di UMS, tekankan pentingnya kompetensi dan ketangguhan mental
26 November 2025 16:13 WIB
Audisi Bulutangkis PB Djarum ajang ukur mental dan daya juang atlet muda
11 September 2025 21:32 WIB
Terpopuler - Spektrum
Lihat Juga
Program Imersi Budaya Bayat: Tinjauan ulang pendekatan humanistik dalam pedagogi BIPA
18 January 2026 19:06 WIB