Komunitas Lima Gunung gelar "Larung Sengkala" di Sungai Progo
Rabu, 25 November 2020 19:09 WIB
Para seniman melakukan ritual budaya "Donga Kali, Larung Sengkala" di Sungai Progo Kota Magelang, Jawa Tengah, Rabu (25/11/2020). ANTARA/Hari Atmoko
Magelang (ANTARA) - Seniman petani Komunitas Lima Gunung menyelenggarakan ritual budaya "Donga Kali, Larung Sengkala" di Sungai Progo yang membatasi Kota dan Kabupaten Magelang, Jateng sebagai ungkapan harapan berbagai kesulitan hidup bersama, termasuk dampak pandemi COVID-19, segera teratasi.
Prosesi ritual budaya oleh para seniman petani komunitas itu yang juga didukung para pegiat seni dari sejumlah sanggar di Kota Magelang itu, Rabu, dimulai dari Pendapa Sasana Pamardi Budaya Kampung Meteseh, Kota Magelang yang dikelola dalang setempat, Susilo Anggoro.
Mereka dengan menggunakan berbagai kostum kesenian dan pakaian adat Jawa berjalan kaki dari pendapa tersebut menuju Sungai Progo berjarak sekitar 400 meter.
Beberapa seniman lainnya yang ikut prosesi budaya dengan menerapkan protokol kesehatan, antara lain terkait dengan penggunaan masker itu, antara lain dari Sanggar Srikandi (pimpinan Lyra de Blaw) dan Sanggar Arum Sari (pimpinan Sri Rumsari Listyorini).
Para tokoh dan seniman Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang yang terlibat dalam acara seni budaya tersebut, antara lain Sutanto Mendut (budayawan dan pendiri komunitas), Supadi Haryanto (ketua), Riyadi, Ismanto, Sujono Bandongan, Pangadi, Sih Agung Prasetyo, Singgih Aljawi, Nabila Rivani, Khoirul Mutaqin, Agus, dan Handoko.
Kekidungan dan suluk dikumandangkan mereka dengan iringan bunyi perkusi serta bende dalam prosesi. Mereka juga menaburkan kembang mawar dalam prosesi dan melarung properti berupa dua sosok wayang berwujud dedemit sebagai simbol "sengkala" di Sungai Progo.
Susilo Anggoro yang juga Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Magelang itu, di tepi Sungai Progo, juga melakukan pemotongan secara simbolis rambut lima putri, lalu memasukkan ke periuk untuk kemudian dilarung di kali tersebut.
Para seniman dengan mengambil tempat di atas bebatuan besar Sungai Progo melakukan performa gerak selama beberapa waktu berlangsung ritual budaya "Donga Kali, Larung Sengkala" di tempat dengan cuaca terlihat cerah itu.
Supadi Haryanto mengatakan prosesi itu selain sebagai ungkapan kebersamaan para seniman, juga doa dan harapan agar kehidupan bersama yang terasa serba suram dan sulit saat ini, termasuk akibat pandemi COVID-19, segera berlalu dan masyarakat terhindar dari musibah.
Prosesi budaya tersebut terkait juga dengan doa untuk keselamatan masyarakat dari kawasan Gunung Merapi yang saat ini sedang menghadapi peningkatan aktivitas vulkanik sehingga sebagian mereka, khususnya kalangan lansia, perempuan, dan anak-anak, dievakuasi ke berbagai tempat pengungsian dalam konsep "Desa Bersaudara".
"Agar terhindar (dari bencana erupsi Merapi, red.), kita bisa aman. Semoga doa harapan ini didengar Tuhan sehingga semua selamat, sehat, terhindar dari marabahaya, dan diberi ketenteraman lahir dan batin," ujar dia.
Susilo Anggoro yang juga pegiat Komunitas Lima Gunung itu, menjelaskan bahwa ritual itu menunjukkan keprihatinan para seniman terkait dengan situasi kehidupan bersama akhir-akhir ini, antara lain terkait dengan pandemi COVID-19, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, dan persoalan akhir-akhir ini yang terkesan mengancam persatuan serta kesatuan bangsa.
"Kalau dalam pewayangan Betari Durga punya prajurit setan, jin. Itu yang mengganggu manusia. Ini kita ritual budaya, kita kemas, lalu kita larung di Sungai Progo, harapannya ini sudah 'lerem' (pulih) keadaan, masyarakat bisa senang, bahagia, bisa menikmati tenang dan tenteram," ujarnya.
Usai prosesi ritual budaya di Sungai Progo mereka kembali ke Pendapa Sasana Pamardi Budaya Kampung Meteseh untuk mengikuti sarasehan tentang sungai sebagai simbol kehidupan dan peradaban umat manusia.
Prosesi ritual budaya oleh para seniman petani komunitas itu yang juga didukung para pegiat seni dari sejumlah sanggar di Kota Magelang itu, Rabu, dimulai dari Pendapa Sasana Pamardi Budaya Kampung Meteseh, Kota Magelang yang dikelola dalang setempat, Susilo Anggoro.
Mereka dengan menggunakan berbagai kostum kesenian dan pakaian adat Jawa berjalan kaki dari pendapa tersebut menuju Sungai Progo berjarak sekitar 400 meter.
Beberapa seniman lainnya yang ikut prosesi budaya dengan menerapkan protokol kesehatan, antara lain terkait dengan penggunaan masker itu, antara lain dari Sanggar Srikandi (pimpinan Lyra de Blaw) dan Sanggar Arum Sari (pimpinan Sri Rumsari Listyorini).
Para tokoh dan seniman Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang yang terlibat dalam acara seni budaya tersebut, antara lain Sutanto Mendut (budayawan dan pendiri komunitas), Supadi Haryanto (ketua), Riyadi, Ismanto, Sujono Bandongan, Pangadi, Sih Agung Prasetyo, Singgih Aljawi, Nabila Rivani, Khoirul Mutaqin, Agus, dan Handoko.
Kekidungan dan suluk dikumandangkan mereka dengan iringan bunyi perkusi serta bende dalam prosesi. Mereka juga menaburkan kembang mawar dalam prosesi dan melarung properti berupa dua sosok wayang berwujud dedemit sebagai simbol "sengkala" di Sungai Progo.
Susilo Anggoro yang juga Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Magelang itu, di tepi Sungai Progo, juga melakukan pemotongan secara simbolis rambut lima putri, lalu memasukkan ke periuk untuk kemudian dilarung di kali tersebut.
Para seniman dengan mengambil tempat di atas bebatuan besar Sungai Progo melakukan performa gerak selama beberapa waktu berlangsung ritual budaya "Donga Kali, Larung Sengkala" di tempat dengan cuaca terlihat cerah itu.
Supadi Haryanto mengatakan prosesi itu selain sebagai ungkapan kebersamaan para seniman, juga doa dan harapan agar kehidupan bersama yang terasa serba suram dan sulit saat ini, termasuk akibat pandemi COVID-19, segera berlalu dan masyarakat terhindar dari musibah.
Prosesi budaya tersebut terkait juga dengan doa untuk keselamatan masyarakat dari kawasan Gunung Merapi yang saat ini sedang menghadapi peningkatan aktivitas vulkanik sehingga sebagian mereka, khususnya kalangan lansia, perempuan, dan anak-anak, dievakuasi ke berbagai tempat pengungsian dalam konsep "Desa Bersaudara".
"Agar terhindar (dari bencana erupsi Merapi, red.), kita bisa aman. Semoga doa harapan ini didengar Tuhan sehingga semua selamat, sehat, terhindar dari marabahaya, dan diberi ketenteraman lahir dan batin," ujar dia.
Susilo Anggoro yang juga pegiat Komunitas Lima Gunung itu, menjelaskan bahwa ritual itu menunjukkan keprihatinan para seniman terkait dengan situasi kehidupan bersama akhir-akhir ini, antara lain terkait dengan pandemi COVID-19, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, dan persoalan akhir-akhir ini yang terkesan mengancam persatuan serta kesatuan bangsa.
"Kalau dalam pewayangan Betari Durga punya prajurit setan, jin. Itu yang mengganggu manusia. Ini kita ritual budaya, kita kemas, lalu kita larung di Sungai Progo, harapannya ini sudah 'lerem' (pulih) keadaan, masyarakat bisa senang, bahagia, bisa menikmati tenang dan tenteram," ujarnya.
Usai prosesi ritual budaya di Sungai Progo mereka kembali ke Pendapa Sasana Pamardi Budaya Kampung Meteseh untuk mengikuti sarasehan tentang sungai sebagai simbol kehidupan dan peradaban umat manusia.
Pewarta : M. Hari Atmoko
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Prabowo terima lima pengusaha nasional, perkuat Indonesia Incorporated
11 February 2026 9:04 WIB
Kemenkum Jateng serahkan sertifikat indikasi geografis lima motif tenun troso Jepara
05 February 2026 19:25 WIB
UMS perkuat riset teknologi dan pembangunan berkelanjutan dengan menambah lima guru besar
19 January 2026 16:17 WIB
Lima finalis Festival Film Desa HDN 2026 ditonton bareng lewat layar tancap
15 January 2026 14:29 WIB
Berikut Jadwal Malaysia Open: Lima wakil Indonesia lanjutkan perjuangannya di babak kedua
08 January 2026 11:30 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB
Sumanto ajak masyarakat pahami pesan moral dalam lakon Wayang Kulit Kresna Duta
21 November 2025 17:27 WIB