Lima pelukis pameran "Candi-Candi Berbisik" di Studio Mendut
Minggu, 10 November 2019 20:13 WIB
Sejumlah orang menyimak lukisan-lukisan yang dipamerkan dengan tajuk "Candi-Candi Berbisik" di panggung terbuka Studio Mendut Kabupaten Magelang, Minggu (10-11-2019). ANTARA/Hari Atmoko
Magelang (ANTARA) - Lima pelukis mamerkan karyanya dengan tajuk "Candi-Candi Berbisik" di Studio Mendut, Kabupaten Magelang mulai Minggu hingga 10 Desember 2019.
"Setiap orang punya interpretasi sendiri-sendiri mengenai candi. Candi itu juga penanda setiap zaman. Kalau di sana ada Candi Borobudur, ada Buddha dan Sidharta Gautama, saya membaca di situ ada guru," kata Cipto Purnowo, salah satu di antara lima pelukis yang berpameran di Magelang, Minggu.
Pembukaan pameran, selain ditandai dengan pementasan tarian dari Sanggar Dua Aap dan Sanggar Saujana, serta pembacaan puisi "Matematika Borobudur" (penyair Haris Hertoraharjo), juga diisi pidato silang inspirasi oleh salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta Kiai Jadul Maulana.
Tampil pula budayawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Romo G. Budi Subanar dan mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta Brian Trinanda K. Adi dengan moderator budayawan Komunitas Lima Gunung Kabuapten Magelang Sutanto Mendut.
Baca juga: Seniman performa "Jinjit" pagi di Festival Lima Gunung
Lima pelukis yang berpameran di panggung terbuka Studio Mendut, sektiar 100 meter timur Candi Mendut, Kabupaten Magelang, itu adalah Cipto Purnomo, Kana Fuddy Prakoso, Sujono Keron, Niluh Sudarti, dan Nasya Patrini Rusdi.
Dalam pameran itu, antara lain Kana memamerkan lukisan berjudul "Kisah Batu 2", Cipto Purnomo "Mencari Jalan Pulang" dan "Blessing", Nasya "Retrospeksi Mendut#1" dan "Retrospeksi Mendut #2", Niluh "Toto Titi Tentrem" dan "Madeg Pandhito", Sujono "Keindahan" dan "Peduli" (lukisan dengan bahan limbah plastik).
Cipto menyebut lukisan karyanya berjudul "Blessing" terkait dengan inspirasi tentang sosok guru, yang menunjuk kepada guru kehidupan dalam ajaran Buddha, Sidharta Gautama.
"Zaman sekarang selalu ada guru yang kita bisa membuka, banyak bisik-bisik, itu sebetulnya sang guru itu membuka wawasan kita, mengetahui dari mana kita asalnya dan ke mana kita kejar," ucap dia.
Ia juga menyebut tentang pentingnya mendalami pengalaman spiritual sang guru sebagai bagian dari upaya orang untuk membaca keadaan dan perkembangan zaman. Empat narasumber, Sutanto Mendut, Kiai Jadul Maulana, Romo G. Budi Subanar, dan Brian Trinanda K. Adi (dari kiri ke kanan) berpidato silang inspirasi pada pembukaan pameran lukisan "Candi-Candi Berbisik" di Studio Mendut Kabupaten Magelang, Minggu (10-11-2019). ANTARA/Hari Atmoko
Kiai Jadul Maulana yang juga pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak, Bantul, D.I. Yogyakarta, selain bercerita tentang tempat tinggalnya yang berdekatan dengan situs Candi Payak, juga mengemukakan tentang makna atas temuan berbagai candi di banyak tempat.
"Mungkin candi adalah tradisi universal, perlu merenung, introspeksi diri tentang candi. Candi adalah wilayah suci, 'hotspot' rohani," ujar dia.
Baca juga: 40 seniman pameran "Rasah Mikir" Festival Lima Gunung
Hal serupa juga dikemukakan oleh Sutanto tentang tempat tinggalnya yang tidak jauh dari Candi Mendut yang sebagai bagian dari rangkaian makna spiritual dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur.
"Kita di tanah suci," kata Tanto yang pada kesempatan itu menerima pemberian novel terbaru karya Romo Budi Subanar berjudul "Mata Air, Air Mata Kota".
Brian yang sedang melakukan penelitian tentang Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang mengemukakan bahwa candi bukan hanya kisah sejarah, tetapi juga suatu kitab dan makna lainnya, termasuk ajaran transendental. Candi, sebagai ajaran tentang kehidupan, kosmologis, alam, dan Tuhan.
"Tetapi mungkin kita kehilangan cara berkomunikasi dengannya. Sekarang, mungkin candi tidak lagi bersorak, riuh, tetapi berbisik sebagai yang abadi. Candi tidak hilang, tetapi berbisik. Candi juga karya seni yang penting, kreativitas penting," katanya.
Baca juga: 16 seniman performa gerak "Mbuka Lumbung Gunung" di Sungai Senowo
Romo Budi Subanar menyebut menghadiri pameran "Candi-Candi Berbisik" itu sebagai kemewahan, termasuk kaitannya dengan Magelang di mana banyak situs candi.
"Kalau Mas Haris (penyair Haris Kertaraharja) dengan puisinya 'Matematika Borobudur', tetapi bagi saya mat-matan Borobudur. Saya sudah tidak mikir. Mat-matan itu juga Candi Wukir atau Candi Canggal (Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang)," katanya.
Ia menyebut Candi Canggal sebagai candi pertama kali yang sudah ada angka tahun 654 atau 732 itu, penanda bahwa peradaban mulai bangkit, sedangkan candrasekala, "Sruti Indra Rasa" terkait dengan makna peradaban, ilmu pengetahuan, dan nalar rasa.
Ia juga mengemukakan tentang mat-matan Borobudur yang bukan lagi sekadar wadak bangunannya tetapi menjadi bagian kesatuan kepemilikan.
"Mat-matan Borobudur bukan lagi wadaknya tetapi merasakan menyatu jadi milik saya," ucap dia.
Ia menyebut mengalami, menikmati, dan merasakan candi-candi berbisik, termasuk melalui pameran lukisan di Studio Mendut yang juga pusat aktivitas seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang itu.
"Setiap orang punya interpretasi sendiri-sendiri mengenai candi. Candi itu juga penanda setiap zaman. Kalau di sana ada Candi Borobudur, ada Buddha dan Sidharta Gautama, saya membaca di situ ada guru," kata Cipto Purnowo, salah satu di antara lima pelukis yang berpameran di Magelang, Minggu.
Pembukaan pameran, selain ditandai dengan pementasan tarian dari Sanggar Dua Aap dan Sanggar Saujana, serta pembacaan puisi "Matematika Borobudur" (penyair Haris Hertoraharjo), juga diisi pidato silang inspirasi oleh salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta Kiai Jadul Maulana.
Tampil pula budayawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Romo G. Budi Subanar dan mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta Brian Trinanda K. Adi dengan moderator budayawan Komunitas Lima Gunung Kabuapten Magelang Sutanto Mendut.
Baca juga: Seniman performa "Jinjit" pagi di Festival Lima Gunung
Lima pelukis yang berpameran di panggung terbuka Studio Mendut, sektiar 100 meter timur Candi Mendut, Kabupaten Magelang, itu adalah Cipto Purnomo, Kana Fuddy Prakoso, Sujono Keron, Niluh Sudarti, dan Nasya Patrini Rusdi.
Dalam pameran itu, antara lain Kana memamerkan lukisan berjudul "Kisah Batu 2", Cipto Purnomo "Mencari Jalan Pulang" dan "Blessing", Nasya "Retrospeksi Mendut#1" dan "Retrospeksi Mendut #2", Niluh "Toto Titi Tentrem" dan "Madeg Pandhito", Sujono "Keindahan" dan "Peduli" (lukisan dengan bahan limbah plastik).
Cipto menyebut lukisan karyanya berjudul "Blessing" terkait dengan inspirasi tentang sosok guru, yang menunjuk kepada guru kehidupan dalam ajaran Buddha, Sidharta Gautama.
"Zaman sekarang selalu ada guru yang kita bisa membuka, banyak bisik-bisik, itu sebetulnya sang guru itu membuka wawasan kita, mengetahui dari mana kita asalnya dan ke mana kita kejar," ucap dia.
Ia juga menyebut tentang pentingnya mendalami pengalaman spiritual sang guru sebagai bagian dari upaya orang untuk membaca keadaan dan perkembangan zaman. Empat narasumber, Sutanto Mendut, Kiai Jadul Maulana, Romo G. Budi Subanar, dan Brian Trinanda K. Adi (dari kiri ke kanan) berpidato silang inspirasi pada pembukaan pameran lukisan "Candi-Candi Berbisik" di Studio Mendut Kabupaten Magelang, Minggu (10-11-2019). ANTARA/Hari Atmoko
Kiai Jadul Maulana yang juga pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak, Bantul, D.I. Yogyakarta, selain bercerita tentang tempat tinggalnya yang berdekatan dengan situs Candi Payak, juga mengemukakan tentang makna atas temuan berbagai candi di banyak tempat.
"Mungkin candi adalah tradisi universal, perlu merenung, introspeksi diri tentang candi. Candi adalah wilayah suci, 'hotspot' rohani," ujar dia.
Baca juga: 40 seniman pameran "Rasah Mikir" Festival Lima Gunung
Hal serupa juga dikemukakan oleh Sutanto tentang tempat tinggalnya yang tidak jauh dari Candi Mendut yang sebagai bagian dari rangkaian makna spiritual dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur.
"Kita di tanah suci," kata Tanto yang pada kesempatan itu menerima pemberian novel terbaru karya Romo Budi Subanar berjudul "Mata Air, Air Mata Kota".
Brian yang sedang melakukan penelitian tentang Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang mengemukakan bahwa candi bukan hanya kisah sejarah, tetapi juga suatu kitab dan makna lainnya, termasuk ajaran transendental. Candi, sebagai ajaran tentang kehidupan, kosmologis, alam, dan Tuhan.
"Tetapi mungkin kita kehilangan cara berkomunikasi dengannya. Sekarang, mungkin candi tidak lagi bersorak, riuh, tetapi berbisik sebagai yang abadi. Candi tidak hilang, tetapi berbisik. Candi juga karya seni yang penting, kreativitas penting," katanya.
Baca juga: 16 seniman performa gerak "Mbuka Lumbung Gunung" di Sungai Senowo
Romo Budi Subanar menyebut menghadiri pameran "Candi-Candi Berbisik" itu sebagai kemewahan, termasuk kaitannya dengan Magelang di mana banyak situs candi.
"Kalau Mas Haris (penyair Haris Kertaraharja) dengan puisinya 'Matematika Borobudur', tetapi bagi saya mat-matan Borobudur. Saya sudah tidak mikir. Mat-matan itu juga Candi Wukir atau Candi Canggal (Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang)," katanya.
Ia menyebut Candi Canggal sebagai candi pertama kali yang sudah ada angka tahun 654 atau 732 itu, penanda bahwa peradaban mulai bangkit, sedangkan candrasekala, "Sruti Indra Rasa" terkait dengan makna peradaban, ilmu pengetahuan, dan nalar rasa.
Ia juga mengemukakan tentang mat-matan Borobudur yang bukan lagi sekadar wadak bangunannya tetapi menjadi bagian kesatuan kepemilikan.
"Mat-matan Borobudur bukan lagi wadaknya tetapi merasakan menyatu jadi milik saya," ucap dia.
Ia menyebut mengalami, menikmati, dan merasakan candi-candi berbisik, termasuk melalui pameran lukisan di Studio Mendut yang juga pusat aktivitas seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang itu.
Pewarta : M. Hari Atmoko
Editor : Kliwon
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Prabowo terima lima pengusaha nasional, perkuat Indonesia Incorporated
11 February 2026 9:04 WIB
Kemenkum Jateng serahkan sertifikat indikasi geografis lima motif tenun troso Jepara
05 February 2026 19:25 WIB
UMS perkuat riset teknologi dan pembangunan berkelanjutan dengan menambah lima guru besar
19 January 2026 16:17 WIB
Lima finalis Festival Film Desa HDN 2026 ditonton bareng lewat layar tancap
15 January 2026 14:29 WIB
Berikut Jadwal Malaysia Open: Lima wakil Indonesia lanjutkan perjuangannya di babak kedua
08 January 2026 11:30 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB
Sumanto ajak masyarakat pahami pesan moral dalam lakon Wayang Kulit Kresna Duta
21 November 2025 17:27 WIB