Azuki, ciri khas makanan penutup Jepang
Jumat, 30 November 2018 9:00 WIB
Kacang merah dan kue taiyaki (Shuttterstock)
Jakarta (Antaranews Jateng) - Jepang memiliki beragam makanan penutup yang sebagian dikenal juga di Indonesia, mulai dari dorayaki hingga mochi.
Salah satu karakteristik dari kue-kue manis tradisional Jepang adalah azuki alias kacang merah yang sering jadi isian dari makanan penutup.
Mengapa demikian? Chef Hiroto Nakai dari restoran Ootoya mengungkapkan negeri asalnya sudah membuat kue manis selama berabad-abad sebelum gula tersedia di penjuru negerinya.
"Kacang merah dari Jepang yang memiliki cita rasa manis digunakan sebagai pengganti gula," kata Hiroto dalam diskusi kuliner di Japan Foundation, Jakarta, Kamis.
Baca juga: Gerai cheesecake asal Jepang semakin ramaikan Indonesia
Salah satu contoh penggunaan azuki adalah sebagai isian untuk kue tradisional Jepang alias wagashi. Misalnya, jadi isian dorayaki, kue favorit tokoh fiksi Doraemon, juga zenzai yang terdiri dari mochi serta sirup kacang merah.
Jepang yang memiliki empat musim biasanya menyajikan kue yang berbeda-beda sesuai dengan musim. Bahan dasarnya disesuaikan dengan apa yang tersedia tiap musim.
Penyajiannya juga bervariasi. Kue hangat disajikan pada musim dingin, juga sebaliknya.
Baca juga: Bersantai sambil mengudap kue sehat di Bogor
Pada November ketika musim gugur mulai memasuki musim dingin, biasanya bahan yang dipakai adalah labu, kombucha atau kastanye. Pada musim dingin, kue mochi daifuku juga kerap disajikan.
Selain kacang merah, beras juga jadi bahan dasar yang sering dipakai untuk membuat kue tradisional Jepang.
Salah satu ciri khas lain dari kue-kue Jepang, kata Hiroto, adalah penggunaan air.
Berbeda dengan kue dari Barat seperti cake atau biskuit yang biasanya menggunakan mentega dan minyak, kue-kue Jepang banyak menggunakan air.
"Kuncinya adalah air bersih dan berkualitas," katanya. Ketika membuat pasta kacang merah, misalnya, air yang dipakai sudah melewati dua kali proses penyaringan agar kondisinya basa. (Editor : Subagyo).
Salah satu karakteristik dari kue-kue manis tradisional Jepang adalah azuki alias kacang merah yang sering jadi isian dari makanan penutup.
Mengapa demikian? Chef Hiroto Nakai dari restoran Ootoya mengungkapkan negeri asalnya sudah membuat kue manis selama berabad-abad sebelum gula tersedia di penjuru negerinya.
"Kacang merah dari Jepang yang memiliki cita rasa manis digunakan sebagai pengganti gula," kata Hiroto dalam diskusi kuliner di Japan Foundation, Jakarta, Kamis.
Baca juga: Gerai cheesecake asal Jepang semakin ramaikan Indonesia
Salah satu contoh penggunaan azuki adalah sebagai isian untuk kue tradisional Jepang alias wagashi. Misalnya, jadi isian dorayaki, kue favorit tokoh fiksi Doraemon, juga zenzai yang terdiri dari mochi serta sirup kacang merah.
Jepang yang memiliki empat musim biasanya menyajikan kue yang berbeda-beda sesuai dengan musim. Bahan dasarnya disesuaikan dengan apa yang tersedia tiap musim.
Penyajiannya juga bervariasi. Kue hangat disajikan pada musim dingin, juga sebaliknya.
Baca juga: Bersantai sambil mengudap kue sehat di Bogor
Pada November ketika musim gugur mulai memasuki musim dingin, biasanya bahan yang dipakai adalah labu, kombucha atau kastanye. Pada musim dingin, kue mochi daifuku juga kerap disajikan.
Selain kacang merah, beras juga jadi bahan dasar yang sering dipakai untuk membuat kue tradisional Jepang.
Salah satu ciri khas lain dari kue-kue Jepang, kata Hiroto, adalah penggunaan air.
Berbeda dengan kue dari Barat seperti cake atau biskuit yang biasanya menggunakan mentega dan minyak, kue-kue Jepang banyak menggunakan air.
"Kuncinya adalah air bersih dan berkualitas," katanya. Ketika membuat pasta kacang merah, misalnya, air yang dipakai sudah melewati dua kali proses penyaringan agar kondisinya basa. (Editor : Subagyo).
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kolaborasi riset Pemkot Madiun dan FSRD ISI Solo angkat motif batik ciri khas lokal
15 August 2025 20:09 WIB
"9th Festival Komukino 2024", Rektor USM: Pelestarian budaya jadi ciri bangsa
13 January 2024 8:22 WIB, 2024
Budayawan: Baju adat untuk seragam sekolah akan perkuat ciri kedaerahan
21 October 2022 14:58 WIB, 2022
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB