Pakar: Waspadai akun abal-abal pada masa kampanye
Selasa, 9 Oktober 2018 19:28 WIB
Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha. (Foto: Dok .CISSReC)
Semarang (Antaranews Jateng) - Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha mengingatkan warganet (netizen) mewaspadai akun abal-abal di media sosial dengan selalu mengecek kebenaran isi pesan, apalagi pada masa kampanye Pemilu Presiden 2019.
"Bahkan, akun abal-abal ini dilibatkan dalam upaya kontestasi pemilu, bisa sebagai akun 'black campaign' (kampanye hitam) atau sekadar 'buzzer'," kata Pratama kepada Antara di Semarang, Selasa malam.
Oleh karena itu, warganet jangan mudah percaya akun dengan foto profil yang tidak jelas atau tanpa muka aslinya bila memang tidak kenal.
Bila memakai foto orang, lanjut dia, bisa dicek lewat Google Search khusus gambar (Google Images), akan muncul apakah benar foto itu asli atau foto orang lain.
Selanjutnya, bisa dilihat dari "postingan"-nya. Apabila hanya melakukan "retweet" dan jarang "posting", kemungkinan besar adalah akun palsu alias akun abal-abal.
"Waspadai juga akun palsu yang mem-'posting' provokasi dan juga tiba-tiba melakukan inbox meminta sesuatu," kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC).
Kemungkinan bertambahnya jumlah akun abal-abal di media sosial, khususnya Facebook dan Twitter, pada masa kampanye (23 September 2018 s.d. 13 April 2019), menurut Pratama, sebenarnya sudah dibatasi dengan semua platform media sosial memasukkan nomor seluler sebagai syarat mendaftar akun.
"Namun, di Indonesia karena masih bebas membeli nomor perdana, jadi kemungkinan bertambahnya akun palsu masih sangat terbuka lebar," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu.
Apalagi, kata Pratama, kini pendaftaran nomor bisa lebih dari tiga akun setiap nomornya.
Bila kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) masyarakat tersebar, menurut Pratama, pihak yang tidak bertanggung jawab bisa menggunakan dokumen kependudukan itu.
"Bahkan, akun abal-abal ini dilibatkan dalam upaya kontestasi pemilu, bisa sebagai akun 'black campaign' (kampanye hitam) atau sekadar 'buzzer'," kata Pratama kepada Antara di Semarang, Selasa malam.
Oleh karena itu, warganet jangan mudah percaya akun dengan foto profil yang tidak jelas atau tanpa muka aslinya bila memang tidak kenal.
Bila memakai foto orang, lanjut dia, bisa dicek lewat Google Search khusus gambar (Google Images), akan muncul apakah benar foto itu asli atau foto orang lain.
Selanjutnya, bisa dilihat dari "postingan"-nya. Apabila hanya melakukan "retweet" dan jarang "posting", kemungkinan besar adalah akun palsu alias akun abal-abal.
"Waspadai juga akun palsu yang mem-'posting' provokasi dan juga tiba-tiba melakukan inbox meminta sesuatu," kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC).
Kemungkinan bertambahnya jumlah akun abal-abal di media sosial, khususnya Facebook dan Twitter, pada masa kampanye (23 September 2018 s.d. 13 April 2019), menurut Pratama, sebenarnya sudah dibatasi dengan semua platform media sosial memasukkan nomor seluler sebagai syarat mendaftar akun.
"Namun, di Indonesia karena masih bebas membeli nomor perdana, jadi kemungkinan bertambahnya akun palsu masih sangat terbuka lebar," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu.
Apalagi, kata Pratama, kini pendaftaran nomor bisa lebih dari tiga akun setiap nomornya.
Bila kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) masyarakat tersebar, menurut Pratama, pihak yang tidak bertanggung jawab bisa menggunakan dokumen kependudukan itu.
Pewarta : D.Dj. Kliwantoro
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kolaborasi Google Lens dan Canva perkaya pembelajaran prakarya rekayasa kelas XI
05 December 2024 13:46 WIB, 2024
Dirjen IKP : Koran bertahan selama kedepankan jurnalisme berkualitas
01 February 2023 20:52 WIB, 2023
Pakar : Google, Facebook, dan Twitter terancam diblokir tunjukkan ketegasan pemerintah
18 July 2022 13:16 WIB, 2022
Terpopuler - IT
Lihat Juga
Wamenag tekankan tanggung jawab moral manusia atas kecerdasan buatan di ICIMS 2026 UMS
10 February 2026 17:55 WIB
Dosen UMS soroti risiko dan standar perlindungan data pada registrasi SIM berbasis face recognition
07 February 2026 18:58 WIB
Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam Indosat cegah ratusan juta upaya penipuan digital
26 November 2025 22:28 WIB
Mahasiswa Sekolah Vokasi Undip juara melalui AISA, Sahabat Cerdas Petani Sawit
07 November 2025 13:21 WIB