Magelang kembangkan tumpangsari kopi-hortikultura
Senin, 10 September 2018 8:10 WIB
ilustrasi - Seorang warga memanen kopi robusta di perkebunan desa Muntung, Candiroto, Temanggung, Jateng, Minggu (29/7). Menurut petani, hasil panen kopi robusta tahun ini lebih banyak dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya karena cuaca sangat mendukung. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom/18.
Magelang (Antaranews Jateng) - Pemerintah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengembangkan budi daya tanaman kopi dengan sistem tumpangsari kata Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian, dan Perkebunan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan.
"Kami menerapkan konsep pengembangan tanaman kopi dengan sistem tumpangsari, karena lahan petani relatif sempit rata-rata antara 0,2 hingga 0,3 hektare," katanya di Magelang, Senin.
Ia menuturkan petani memerlukan kebutuhan jangka pendek sehingga dengan konsep tumpangsari mereka masih punya peluang untuk memperoleh penghasilan dengan menanam tanaman hortikultura di sela-sela tanaman kopi.
"Hasil dari tanaman hortikultura seperti cabai, kol, dan wortel bisa untuk mencukupi kebutuhan harian," katanya.
Ia menuturkan tanaman kopi jenis arabika dikembangkan di kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong dan Telomoyo yang meliputi wilayah ?Kecamatan Dukun, Sawangan, Pakis, Ngablak, Windusari, Kaliangkrik, Kajoran, dan Kecamatan Grabak.
Romza mengatakan daerah tersebut cocok untuk budi daya tanaman kopi arabika karena memiliki ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.
Menurut dia tanaman kopi ini juga sebagai alternatif atau pilihan sebagai tambahan di luar tanaman tembakau.
Ia menyampaikan dari sisi harga dalam lima tahun terakhir, tanaman tembakau kurang menjanjikan karena kegagalan panen terkait dengan iklim yang ekstrem.
"Tanaman kopi ini juga berfungsi sebagai konservasi lahan di kawasan lereng gunung. Dipilih tanaman kopi karena memiliki nilai ekonomi tinggi yang dalam lima tahun terakhir harga kopi cenderung naik," katanya. ? ??
Pada 2018 Kabupaten Magelang menanam kopi arabika di lahan seluas 500 hektare, yakni seluas 350 hektare berasal dari dana APBN dan sisanya dari APBD Kabupaten Magelang dan APBD Provinsi Jateng.
"Kami menerapkan konsep pengembangan tanaman kopi dengan sistem tumpangsari, karena lahan petani relatif sempit rata-rata antara 0,2 hingga 0,3 hektare," katanya di Magelang, Senin.
Ia menuturkan petani memerlukan kebutuhan jangka pendek sehingga dengan konsep tumpangsari mereka masih punya peluang untuk memperoleh penghasilan dengan menanam tanaman hortikultura di sela-sela tanaman kopi.
"Hasil dari tanaman hortikultura seperti cabai, kol, dan wortel bisa untuk mencukupi kebutuhan harian," katanya.
Ia menuturkan tanaman kopi jenis arabika dikembangkan di kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong dan Telomoyo yang meliputi wilayah ?Kecamatan Dukun, Sawangan, Pakis, Ngablak, Windusari, Kaliangkrik, Kajoran, dan Kecamatan Grabak.
Romza mengatakan daerah tersebut cocok untuk budi daya tanaman kopi arabika karena memiliki ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.
Menurut dia tanaman kopi ini juga sebagai alternatif atau pilihan sebagai tambahan di luar tanaman tembakau.
Ia menyampaikan dari sisi harga dalam lima tahun terakhir, tanaman tembakau kurang menjanjikan karena kegagalan panen terkait dengan iklim yang ekstrem.
"Tanaman kopi ini juga berfungsi sebagai konservasi lahan di kawasan lereng gunung. Dipilih tanaman kopi karena memiliki nilai ekonomi tinggi yang dalam lima tahun terakhir harga kopi cenderung naik," katanya. ? ??
Pada 2018 Kabupaten Magelang menanam kopi arabika di lahan seluas 500 hektare, yakni seluas 350 hektare berasal dari dana APBN dan sisanya dari APBD Kabupaten Magelang dan APBD Provinsi Jateng.
Pewarta : Heru Suyitno
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Makro
Lihat Juga
Bupati Temanggung ungkap 20 persen opsen PKB untuk peningkatan infrastruktur
28 February 2026 1:42 WIB
BI Jateng gandeng Dewan Masjid Indonesia, sosialisasikan pembayaran zakat lewat QRIS
26 February 2026 7:42 WIB
Wagub : Pertumbuhan ekonomi Jateng tekan pengangguran dan angka kemiskinan
08 February 2026 5:51 WIB
HNSI Jatim ingatkan pengembangan energi pesisir harus cegah de-nelayanisasi
22 January 2026 3:13 WIB