Mahasiswa Unissula ciptakan pengusir tikus murah
Selasa, 6 Maret 2018 13:27 WIB
Achmad Arie Prativi bersama Kaldio, alat pengusir tikus elektrik ciptaannya. (Foto: AZM)
Semarang (Antaranews Jateng) - Mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Achmad Arie Prativi, menciptakan alat elektronik pengusir tikus berharga murah dengan mengandalkan daya baterai 9 volt.
Ketika ditemui di Semarang, Selasa, Arie didampingi rekannya yang memasarkan alat tersebut, Sri Wahyuti Henstiningsih, menyatakan alat tersebut bisa djual murah karena sebagai materialnya berasal dari pipa paralon bekas.
Mahasiswa semester 6 Jurusan Teknik Industri Unissula tersebut menyatakan semula pengusir tikus yang diberi nama Kaldio tersebut merupakan tugas mata kuliah, namun setelah diperkenalkan kepada sejumlah kalangan, ternyata diminati banyak orang.
"Sampai saat ini sudah terjual lebih dari 50 unit. Harganya Rp60.000," kata cowok kelahiran Pati pada 1 Mei 1997 ini.
Sebagai perbandingan, pengusir tikus elektrik yang beredar di pasar dengan mutu sedang hingga baik berharga Rp70.000 hingga Rp250.000/unit. Nilai plus lain, Kaldio ini juga "mobile" karena bisa dipindah-pindah tanpa tergantung ada tidaknya jaringan listrik PLN.
Ia menjelaskan Kaldio dibuat pada Juni 2017 kemudian sempat diikutkan dalam sejumlah kontes, termasuk Pimnas di Makassar 2017. Kendati tidak memperoleh juara, alat tersebut mendapat perhatian luas karena efektifnya mengusir beragam jenis tikus dan yang harga terjangkau.
Semula, Kaldio hanya bekerja dalam radius pengusiran seluas 10 meter persegi, namun saat ini perluasan radius pengusiran tikus hingga 200 meter persegi. Alat ini bekerja pada gelombang ultrasonik 20-90 kilohertz. "Sudah lebih dari cukup untuk membuat tikus menjauhi lokasi alat tersebut," katanya.
Sri Wahyuti, mahasiswa semester 8 Jurusan Ekonomi Unissula yang memasarkan Kaldio, menyatakan saat ini pesanan alat tersebut terus mengalir. "Kendati radius pengusiran bertambah hingga 200 meter persegi, kami tidak menaikkan harga. Tetap Rp60.000," ujar dara asal Pati, Jawa Tengah itu.
Karena produksinya terbatas dan hanya Arie sendiri yang memproduksi, pemasaran produk tersebut juga masih menggunakan media sosial Whatsapp. Kalau kelak produksinya bertambah banyak, media pemasarannya akan menggunakan media sosial yang lebih terbuka semacam Instagram, Facebook, atau Twitter.
Arie akan mengembangkan produknya dengan dua pilihan, satu memakai baterai 9 volt dan satunya lagi langsung menggunakan colokan listrik PLN.
"Secara tekniologi tidak rumit karena hanya menambahkan semacam adaptor di dalamnya. Ruangannya masih cukup untuk menambah adaptor tersebut," katanya.
Atas prestasinya, tersebut Arie menjadi salah seorang calon penerima penghargaan Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah. Menurut rencana, penghargaan kepada tujuh sosok berprestasi di berbagai bidang di Jateng tersebut akan diberikan pada 9 Maret 2018 di Kabupaten Pemalang dalam acara Peringatan Hari Pers tingkat Jateng.
Ketika ditemui di Semarang, Selasa, Arie didampingi rekannya yang memasarkan alat tersebut, Sri Wahyuti Henstiningsih, menyatakan alat tersebut bisa djual murah karena sebagai materialnya berasal dari pipa paralon bekas.
Mahasiswa semester 6 Jurusan Teknik Industri Unissula tersebut menyatakan semula pengusir tikus yang diberi nama Kaldio tersebut merupakan tugas mata kuliah, namun setelah diperkenalkan kepada sejumlah kalangan, ternyata diminati banyak orang.
"Sampai saat ini sudah terjual lebih dari 50 unit. Harganya Rp60.000," kata cowok kelahiran Pati pada 1 Mei 1997 ini.
Sebagai perbandingan, pengusir tikus elektrik yang beredar di pasar dengan mutu sedang hingga baik berharga Rp70.000 hingga Rp250.000/unit. Nilai plus lain, Kaldio ini juga "mobile" karena bisa dipindah-pindah tanpa tergantung ada tidaknya jaringan listrik PLN.
Ia menjelaskan Kaldio dibuat pada Juni 2017 kemudian sempat diikutkan dalam sejumlah kontes, termasuk Pimnas di Makassar 2017. Kendati tidak memperoleh juara, alat tersebut mendapat perhatian luas karena efektifnya mengusir beragam jenis tikus dan yang harga terjangkau.
Semula, Kaldio hanya bekerja dalam radius pengusiran seluas 10 meter persegi, namun saat ini perluasan radius pengusiran tikus hingga 200 meter persegi. Alat ini bekerja pada gelombang ultrasonik 20-90 kilohertz. "Sudah lebih dari cukup untuk membuat tikus menjauhi lokasi alat tersebut," katanya.
Sri Wahyuti, mahasiswa semester 8 Jurusan Ekonomi Unissula yang memasarkan Kaldio, menyatakan saat ini pesanan alat tersebut terus mengalir. "Kendati radius pengusiran bertambah hingga 200 meter persegi, kami tidak menaikkan harga. Tetap Rp60.000," ujar dara asal Pati, Jawa Tengah itu.
Karena produksinya terbatas dan hanya Arie sendiri yang memproduksi, pemasaran produk tersebut juga masih menggunakan media sosial Whatsapp. Kalau kelak produksinya bertambah banyak, media pemasarannya akan menggunakan media sosial yang lebih terbuka semacam Instagram, Facebook, atau Twitter.
Arie akan mengembangkan produknya dengan dua pilihan, satu memakai baterai 9 volt dan satunya lagi langsung menggunakan colokan listrik PLN.
"Secara tekniologi tidak rumit karena hanya menambahkan semacam adaptor di dalamnya. Ruangannya masih cukup untuk menambah adaptor tersebut," katanya.
Atas prestasinya, tersebut Arie menjadi salah seorang calon penerima penghargaan Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah. Menurut rencana, penghargaan kepada tujuh sosok berprestasi di berbagai bidang di Jateng tersebut akan diberikan pada 9 Maret 2018 di Kabupaten Pemalang dalam acara Peringatan Hari Pers tingkat Jateng.
Pewarta : Zaenal
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenkum Jateng hadiri pengukuhan Profesor Kehormatan Prof. Adies Kadir di Unissula
30 November 2025 8:13 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Korlantas Polri kolaborasi dengan Senkom Mitra Polri bangun keselamatan berlalu lintas
21 January 2026 22:07 WIB
Lihat Juga
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB
Wali Kota Tegal Paparkan Inovasi Rusunawa Rendah Karbon di Forum APEKSI 2025 Surabaya
29 October 2025 8:30 WIB