
FEB Unissula kini miliki 21 guru besar

Semarang (ANTARA) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang kini memiliki 21 guru besar, dengan bertambahnya tiga guru besar baru.
"Saat ini, kami memiliki 21 guru besar menjadikan FEB Unissula sebagai FEB dengan jumlah profesor terbanyak di lingkup perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah," kata Dekan FEB Unissula Prof. Dr. Heru Sulistyo, di Semarang, Senin.
Dari 21 profesor yang dimiliki FEB Unissula, 13 profesor di antaranya dihasilkan di bawah kepemimpinannya sebagai dekan, mulai 2022 sampai sekarang.
Tiga guru besar baru yang akan dikukuhkan, yakni Prof Ardian Ardhiatma dan Prof Tri Wikaningrum dalam bidang ilmu manajemen, serta Prof Winarsih dalam bidang akuntansi.
Untuk guru besar kehormatan, kata dia, FEB Unissula memiliki lima profesor sehingga jika ditotal setidaknya sudah ada 26 guru besar di lingkup fakultas tersebut.
"Dikukuhkannya para profesor ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran dan inovasi riset yang berdaya saing internasional," katanya.
Prof Ardian Ardhiatma dalam pidato pengukuhannya akan mengangkat terkait kecerdasan buatan (AI) yang perlu diselaraskan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
"Teknologi AI menggantikan manusia di semua pekerjaan di lini bawah. Dulu sering ketemu petugas gerbang tol, sekarang tidak. Pabrik sekarang pakai mesin," katanya.
Perkembangan teknologi, yakni AI, kata dia, juga membawa fenomena krusial menjadikan manusia berkreasi yang tidak baik untuk mengakali AI, akhirnya terjadi phishing, plagiat, dan sebagainya.
Persoalannya, ia mengatakan bahwa AI sebagai teknologi tidak memiliki kebijakan dan kearifan, sebagaimana nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki manusia.
"Sebagai contoh, saya terlambat karena bangun siang, kemudian teman saya terlambat karena macet. Ini kalau pakai mesin dinilai sama, yakni terlambat," katanya.
Namun, kata dia, penyebab apa seseorang kemudian menjadi terlambat juga perlu dipertimbangkan karena kondisinya bisa saja berbeda, termasuk menentukan sanksi.
Prof Winarsih juga membahas mengenai AI dalam pidato pengukuhannya, namun lebih terkait dengan akuntansi yang dikhawatirkan menggeser peran akuntan.
"Ya, kita harus adaptif dengan perkembangan teknologi. Namun, mesin tidak punya perasaan dalam analisis data. Peran akuntan tetap diperlukan meskipun perkembangan teknologi luar biasa," katanya.
Sedangkan Prof Tri Wikaningrum menyampaikan bahwa tidak selalu organisasi sukses karena "leader" atau pemimpinnya, tetapi pengikut atau "follower" sebenarnya juga memegang peranan penting.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
