LIPI Kembangkan Otomasi Konverter Kit
Rabu, 21 September 2016 10:44 WIB
LIPI (id.wikipedia.org)
Tegal Antara Jateng - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melirik pengembangan otomasi alat konversi energi atau konverter kit bahan bakar bensin dan solar ke gas generasi kedua .
"Ke depan kami akan mengembangkan otomasi konverter kit ini, untuk mengurangi bunyi letusan terutama pada penerapan konverter kit di mesin diesel," ujar Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bambang Subiyanto, usai uji terapi konverter kit generasi kedua di Tegal, Jawa Tengah, Selasa.
Dia menjelaskan dengan sistem otomasi, maka tidak ada lagi bunyi letusan. Suara itu timbul karena alat konversi yang ada saat ini masih manual.
Dalam uji terap tersebut sempat beberapa kali terdengar bunyi letusan pada mesin diesel yang menggunakan konverter kit itu.
"Nantinya, dengan menekan satu tombol maka alat tersebut akan langsung berjalan tanpa ada bunyi letusan."
Alat konversi energi tersebut merupakan karya peneliti binaan LIPI, Abdul Hakim Pane. Alat tersebut dapat mengkonversi penggunaan tujuh jenis bahan bakar yakni bensin, solar, alkohol, LPG, LNG, CNG, dan biogas.
Dengan alat tersebut, nelayan yang sebelumnya melaut dengan menggunakan bensin dan solar, sekarang bisa menggunakan bahan bakar gas.
Berbeda dengan generasi pertama yang mengkonversi bahan bakar yang menggunakan mesin tipe kaburator, untuk generasi kedua lebih canggih karena bisa diterapkan untuk mesin jenis terbaru atau injeksi.
Konverter kit tersebut bisa digunakan untuk alat pertanian dan juga nelayan.
Alat tersebut bisa melakukan penghematan bahan bakar hingga 80 persen.
Satu tabung gas tiga kilogram tersebut bisa digunakan untuk melaut selama 11 hari untuk mesin empat tak. Sedangkan jika menggunakan bensin 10 liter untuk untuk 11 hari dengan asumsi melaut selama dua jam per hari.
Sementara untuk kapal dengan mesin dua tak (kapal yang digunakan untuk laut yang berombak), untuk 10 hari memerlukan 146 liter bensin, sedangkan jika menggunakan gas hanya membutuhkan 10 tabung.
Untuk mesin diesel dua tak, memerlukan 80 liter untuk 10 hari, sedangkan jika menggunakan gas hanya memerlukan 10 tabung.
Alat konverter tersebut juga dilengkapi dengan kotak pengaman, yang aman dari ledakan.
"Kami terbuka bagi industri yang tertarik untuk memproduksi secara massal hasil riset ini," papar dia.
Selain itu pihaknya juga sedang menyiapkan rencana induk untuk sertifikasi produk tersebut.
"Ke depan kami akan mengembangkan otomasi konverter kit ini, untuk mengurangi bunyi letusan terutama pada penerapan konverter kit di mesin diesel," ujar Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bambang Subiyanto, usai uji terapi konverter kit generasi kedua di Tegal, Jawa Tengah, Selasa.
Dia menjelaskan dengan sistem otomasi, maka tidak ada lagi bunyi letusan. Suara itu timbul karena alat konversi yang ada saat ini masih manual.
Dalam uji terap tersebut sempat beberapa kali terdengar bunyi letusan pada mesin diesel yang menggunakan konverter kit itu.
"Nantinya, dengan menekan satu tombol maka alat tersebut akan langsung berjalan tanpa ada bunyi letusan."
Alat konversi energi tersebut merupakan karya peneliti binaan LIPI, Abdul Hakim Pane. Alat tersebut dapat mengkonversi penggunaan tujuh jenis bahan bakar yakni bensin, solar, alkohol, LPG, LNG, CNG, dan biogas.
Dengan alat tersebut, nelayan yang sebelumnya melaut dengan menggunakan bensin dan solar, sekarang bisa menggunakan bahan bakar gas.
Berbeda dengan generasi pertama yang mengkonversi bahan bakar yang menggunakan mesin tipe kaburator, untuk generasi kedua lebih canggih karena bisa diterapkan untuk mesin jenis terbaru atau injeksi.
Konverter kit tersebut bisa digunakan untuk alat pertanian dan juga nelayan.
Alat tersebut bisa melakukan penghematan bahan bakar hingga 80 persen.
Satu tabung gas tiga kilogram tersebut bisa digunakan untuk melaut selama 11 hari untuk mesin empat tak. Sedangkan jika menggunakan bensin 10 liter untuk untuk 11 hari dengan asumsi melaut selama dua jam per hari.
Sementara untuk kapal dengan mesin dua tak (kapal yang digunakan untuk laut yang berombak), untuk 10 hari memerlukan 146 liter bensin, sedangkan jika menggunakan gas hanya membutuhkan 10 tabung.
Untuk mesin diesel dua tak, memerlukan 80 liter untuk 10 hari, sedangkan jika menggunakan gas hanya memerlukan 10 tabung.
Alat konverter tersebut juga dilengkapi dengan kotak pengaman, yang aman dari ledakan.
"Kami terbuka bagi industri yang tertarik untuk memproduksi secara massal hasil riset ini," papar dia.
Selain itu pihaknya juga sedang menyiapkan rencana induk untuk sertifikasi produk tersebut.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kembangkan material ramah lingkungan pengganti kayu, Mahasiswa UMS raih perunggu pada AISEEF 2026
28 February 2026 13:22 WIB
Ketua DPRD Jateng Sumanto ajak warga kembangkan pertanian organik skala rumah tangga
20 February 2026 18:16 WIB
UMS kembangkan konten jurnalistik karosel edukatif berakar pada identitas nusantara
12 February 2026 14:52 WIB
UMS tambah Doktor Ilmu Pendidikan, kembangkan buku Pancasila berorientasi Multiple Sources Learning
12 February 2026 14:46 WIB
UMS lahirkan Doktor Pendidikan, kembangkan inovasi media B'Math atasi rendahnya kemampuan berhitung siswa SD
12 February 2026 14:31 WIB
UMS dan Kementerian PU berkolaborasi kembangkan aplikasi simulasi vegetasi lanskap
06 February 2026 13:57 WIB
UMS kembangkan sistem pengelolaan limbah plastik medis di RS PKU Karanganyar
03 February 2026 16:53 WIB
UMS dipercaya PP Muhammadiyah kembangkan infrastruktur geospasial persyarikatan
27 January 2026 12:52 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB