Magelang, Antara Jateng - Berbagai instalasi seni yang menghiasi Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebagai tuan rumah Festival Lima Gunung XV/2016 menggunakan bahan-bahan alam yang diperoleh seniman petani dari lingkungan setempat.

"Semua menggunakan bahan alam, terutama bambu dan jerami, serta daun-daunan. Tidak ada plastik. Kami memanfaatkan kekayaan pertanian sebagai bahan utama instalasi," kata Ketua Panitia Lokal Festival Lima Gunung XV/2016 Sujono di Magelang, Senin.

Festival tahunan secara mandiri yang diselenggarakan seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang itu, rencananya pada 21-24 Juli 2016 di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sedangkan pembukaan melalui prosesi ritual kontemporer pada 19 Juli 2016 di Candi Gunung Wukir Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Ia mengatakan pembuatan berbagai instalasi seni untuk menghias dusun setempat dikerjakan para pemuda, terutama anggota Sanggar Saujana Keron. Sujono adalah pendiri dan ketua sanggar tersebut.

"Sudah sejak dua bulan terakhir, kami bersama-sama mengerjakan instalasi seni, dan selama Bulan Puasa ini, setelah tarawih juga terus dikerjakan bersama-sama," ujarnya.

Berbagai bentuk instalasi menggunakan bambu, jerami, dan dedaunan itu, antara lain penjor, gunungan, motif lingkaran, dan bermacam lainnya. Berbagai anyaman bambu, seperti beronjong, kukusan, dan "cething" juga menjadi bagian dari setiap instalasi seni.

Sekitar 100 batang bambu dan tiga rit (mobil bak terbuka) jerami dikumpulkan mereka dari dusun setempat dan sejumlah penggilingan padi di kawasan antara Gunung Merapi dan Merbabu itu, untuk bahan instalasi seni.

Pihaknya juga membuat karya instalasi seni yang secara khusus untuk merespons tema besar Festival Lima Gunung XV/2016, yakni "Pala Kependhem".

Tema itu secara harafiah menunjuk kepada kekuatan ketahanan pangan dari hasil pertanian yang sifatnya terpendam dalam tanah, antara lain singkong, ubi, tales, dan gembili, sedangkan secara simbolis menunjuk kepada kekayaan bumi Nusantara (Jawa), sebagaimana tertulis dalam Prasasti Canggal (Ditemukan di Candi Gunung Wukir) tentang kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan ketenteraman Jawadwipa pada masa lampau.

"Kami membuat gunungan 'pala kependhem', ada juga hiasan lainnya berupa 'pala gumantung' untuk ditempatkan di empat titik di dusun kami sebagai tuan rumah festival," ujarnya.

Ia menyebut empat tempat untuk menempatkan gunungan "pala kependhem" itu, yakni di depan Masjid Al Hidayah perbatasan Dusun Keron dengan Nglulang, pojok dusun di wilayah RT4, tepi jalan di wilayah RT2, dan dekat panggung utama festival di wilayah RT1.

Ia mengatakan tiga seniman dari Bali dan seorang perupa dari Yogyakarta secara khusus akan membuat karya instalasi di berbagai pepohonan dekat panggung utama festival di tepi Dusun Keron.

"Mereka sudah survei beberapa waktu lalu," katanya.

Ia mengatakan pemasangan berbagai instalasi seni setelah Lebaran mendatang juga menarik minat seniman Padepokan Tjipto Boedojo Dusun Tutup Ngisor, Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber, keduanya Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, para seniman petani Dusun Dadapan dan Kopeng, keduanya dari Ketep, Kecamatan Sawangan, untuk terlibat membantu warga Keron.

"Mereka ingin terlibat bersama warga Keron memasang berbagai instalasi seni untuk festival," katanya.

Sedikitnya 50 grup kesenian, baik dari berbagai kelompok di Komunitas Lima Gunung, desa-desa sekitar Keron, maupun dari beberapa kota besar, akan menggelar berbagai pementasan dalam Festival Lima Gunung XV/2016.