Perusahaan Garmen di Jateng Butuh Ribuan Tenaga Kerja
Senin, 19 Oktober 2015 11:54 WIB
Pekerja melakukan aktivitasnya di salah satu pabrik tekstil di Sukoharjo, Jawa Tengah. FOTO ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo/pd/12.
"Perusahaan garmen tersebut baik yang baru maupun yang relokasi dari daerah lain," kata Ketua API Kota Semarang Agung Wahono di Semarang, Senin.
Menurut dia, dari awal tahun 2015 hingga saat ini pada tercatat ada dua perusahaan garmen yang baru masuk di Jawa Tengah. Untuk kebutuhan tenaga kerja masing-masing perusahaan antara 4.000-5.000 personel.
"Kalau dikalikan untuk kebutuhan tenaga kerja di perusahaan baru saja ada sekitar 10.000. Belum lagi perusahaan-perusahaan yang relokasi, kadang ada pekerjanya yang tidak mau ikut pindah," katanya.
Diakuinya, hingga saat ini perusahaan garmen tidak terpengaruh oleh goncangan ekonomi baik yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri.
Oleh karena itu, tidak ada langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh perusahaan akibat kondisi tersebut. Bahkan, setiap tahun kebutuhan tenaga kerja terus mengalami peningkatan.
"Peningkatan jumlah tenaga kerja dari awal tahun hingga saat ini saja sudah 5 persen," katanya.
Menurut dia, tidak terpengaruhnya sektor garmen terhadap goncangan ekonomi karena kebutuhan bahan baku yang sudah disuplai oleh pembeli sehingga perusahaan cukup mengeluarkan biaya operasional untuk tenaga kerja saja.
"Kalau perusahaan lain kan ongkos operasionalnya termasuk untuk membeli bahan baku, misalnya sektor baja dan tekstil. Oleh karena itu, beberapa waktu lalu perusahaan sektor-sektor ini terpaksa harus melakukan PHK karena berat untuk melanjutkan operasional," katanya.
Menurut dia, dari awal tahun 2015 hingga saat ini pada tercatat ada dua perusahaan garmen yang baru masuk di Jawa Tengah. Untuk kebutuhan tenaga kerja masing-masing perusahaan antara 4.000-5.000 personel.
"Kalau dikalikan untuk kebutuhan tenaga kerja di perusahaan baru saja ada sekitar 10.000. Belum lagi perusahaan-perusahaan yang relokasi, kadang ada pekerjanya yang tidak mau ikut pindah," katanya.
Diakuinya, hingga saat ini perusahaan garmen tidak terpengaruh oleh goncangan ekonomi baik yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri.
Oleh karena itu, tidak ada langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh perusahaan akibat kondisi tersebut. Bahkan, setiap tahun kebutuhan tenaga kerja terus mengalami peningkatan.
"Peningkatan jumlah tenaga kerja dari awal tahun hingga saat ini saja sudah 5 persen," katanya.
Menurut dia, tidak terpengaruhnya sektor garmen terhadap goncangan ekonomi karena kebutuhan bahan baku yang sudah disuplai oleh pembeli sehingga perusahaan cukup mengeluarkan biaya operasional untuk tenaga kerja saja.
"Kalau perusahaan lain kan ongkos operasionalnya termasuk untuk membeli bahan baku, misalnya sektor baja dan tekstil. Oleh karena itu, beberapa waktu lalu perusahaan sektor-sektor ini terpaksa harus melakukan PHK karena berat untuk melanjutkan operasional," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ralat - Ratu Maxima dari Belanda kunjungi salah satu pabrik garmen di Sragen
26 November 2025 10:16 WIB
PLN berikan layanan premium kepada industri garmen untuk dukung operasional
21 October 2022 9:58 WIB, 2022
Kemenkumham Jateng berikan Diklat kompetensi operator jahit garmen bagi warga binaan
21 February 2022 20:33 WIB, 2022
Terpopuler - Tenaga Kerja
Lihat Juga
Semarakkan May Day, BPJS Ketenagakerjaan Majapahit sosialisasikan Jamsostek Mobile dan MLT
01 May 2026 17:45 WIB
BPJS Ketenagakerjaan Surakarta ikut ramaikan peringatan Hari Buruh 2026 di Solo
01 May 2026 15:23 WIB