
BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan

"Memang ada kekhawatiran tekanan dolar AS terhadap rupiah atau menjelang pelaksanaan Pemilu 2014, namun secara teknis, kalau pun ada pengaruhnya, itu hanya temporer," katanya di Semarang, Kamis.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip itu menjelaskan selama tiga bulan terakhir 2013 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus setelah sebelumnya sempat defisit. Tren surplus diperkirakan berlanjut pada 2014 dengan meningkatnya ekspor.
Faktor eksternal Bank Sentral AS akan mememberi stimulus untuk memperbaiki perekonomian negara adidaya tersebut, menurut dia, juga menjadi sinyal positif bagi RI untuk meningkatkan volume ekspornya karena kebijakan ekonomi AS memiliki dampak besar terhadap perekonomian global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan pada Desember 2013 surplus 1,52 miliar dolar AS, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar yang 776 juta dolar AS.
Capaian tersebut menjadikan neraca perdagangan periode Januari-Desember 2013 secara kumulatif mengalami defisit sebesar 4,063 miliar dollar AS atau jauh lebih rendah dibandingkan yang dikhawatirkan sejumlah kalahan bahwa defisitnya mencapai sekitar lima miliar dolar AS.
Nugroho menjelaskan melemahnya rupiah terhadap dolar AS perlu dibaca juga dari sisi menguatnya daya saing untuk meningkatkan ekspor meskipun dari sisi impor ada pembengkakan selisih kurs. Tren positif lainnya, katanya, volume impor bahan bakar minyak cenderung turun.
Ia memperkirakan infilasi pada 2014 tidak akan setinggi 2013 yang mencapai 8,38 persen karena pada tahun ini tidak ada rencana pemerintah menaikkan harga BBM meskipun PLN dan Pertamina berniat menaikkan harga listrik.
Pewarta: Achmad Zaenal
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
