Logo Header Antaranews Jateng

Empat Meninggal Akibat DBD di Semarang

Senin, 3 Februari 2014 19:39 WIB
Image Print
Sebuah poster yang isinya mengingatkan masyarakat waspada terhadap penyakit demam berdarah tertempel di dinding Puskesmas Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan Surabaya, Senin (29/11). Masyarakat diharapkan dapat memahami cara pencegahan penyakit demam ber


"Padahal, angka kasusnya (DBD, red.) sejauh ini relatif turun," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Semarang dr Mada Gautama di Semarang, Senin.

Jika dilihat dari angka kasus DBD, ia mengakui memang ada penurunan dibandingkan periode sama tahun lalu, yakni Januari 2013 sebanyak 488 kasus, sementara Januari 2014 hanya 78 kasus.

Akan tetapi, kata dia, dilihat dari jumlah penderita yang meninggal dunia justru meningkat, sebab pada periode sama tahun lalu ada dua korban meninggal, sementara tahun ini empat orang.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk segera bertindak cepat jika ada sanak keluarganya yang mengalami gejala DBD, seperti demam harus segera dibawa ke fasilitas layanan kesehatan.

"Gejala demam tinggi masih sering disepelekan masyarakat. Kalau demam, misalnya hanya dibelikan obat di warung. Padahal, gejala demam pada fase penyakit DBD seperti 'pelana kuda'," katanya.

Jangan sampai, kata dia, masyarakat meremehkan gejala-gejala penyakit semacam itu meski hanya demam, sebab penanganan yang diberikan sejak dini terhadap penderita DBD sangat diperlukan.

Ia menyebutkan penderita DBD yang meninggal itu terdapat di Kecamatan Semarang Barat sebanyak dua penderita, kemudian Kecamatan Genuk dan Gajahmungkur masing-masing satu penderita.

"Untuk wilayah dengan kasus DBD tertinggi, sejauh ini terjadi di Kecamatan Genuk dengan sebanyak 11 kasus," katanya.

Berkaitan dengan banjir yang kerap menggenangi sejumlah kawasan permukiman di Kota Semarang, kata dia, memang tidak berdampak tingginya penyebaran DBD, masyarakat tetap harus waspada.

"Jumlah penderita DBD justru turun drastis meski banyak terjadi banjir. Ini sekaligus menandakan bahwa nyamuk Aedes Aegypti tidak menyukai air kotor untuk berkembang biak," katanya.

Akan tetapi, ia mengingatkan masyarakat harus tetap mewaspadai penyebaran DBD, terutama dengan menggiatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan tempat tinggalnya.



Pewarta:
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026