Logo Header Antaranews Jateng

Calon Bupati Magelang Ajak Seniman Lereng Merapi Dialog

Senin, 21 Oktober 2013 18:50 WIB
Image Print


Dialog yang berlangsung di Padepokan Cipto Budoyo di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun tersebut, Susilo ingin menghidupkan wisata seni dan budaya di lereng Gunung Merapi.

Ia yakin jika sebagian wisatawan Borobudur bisa diajak untuk melakukan wisata budaya di Merapi maka akan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Cabup nomor urut satu ini mengatakan, pengunjung Candi Borobudur mencapai lebih dari tiga juta wisatawan per tahun. Namun, ternyata belum memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Magelang. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Magelang tidak pernah lebih dari angka lima persen.

"Selama ini wisatawan hanya naik candi, numpang ke kamar mandi dan kemudian menginap dan belanja di Yogyakarta. Warga Magelang tidak mendapat apa-apa," katanya.

Menurut dia Kabupaten Magelang perlu membangun gedung kesenian sebagai tempat para seniman berkumpul, berkreasi dan memamerkan karya-karya mereka. Selain itu juga perlu diselenggarakan kegiatan kesenian yang menyatu dengan kalender pariwisata Kabupaten Magelang.

"Pementasan seni sebaiknya dijadwalkan agar diketahui wisatawan dan perlu bekerja sama dengan biro perjalanan untuk memasarkannya. Saya kemarin sudah bertemu dengan para perupa dan pelukis untuk mengembangkan wisata seni dan budaya ini," katanya.

Ia mengatakan, jika wisata tergarap dengan baik maka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Magelang akan meningkat. Kunci meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah mensinkronkan antara pertanian, industri kecil, dan pariwisata.

"Magelang harus bisa membuat wisatawan lebih lama tinggal. Salah satunya dengan pementasan seni, penyediaan hotel, dan homestay. Semakin lama tinggal mereka akan membelanjakan uang lebih banyak sehingga menggairahkan ekonomi masyarakat," katanya.

Budayawan Sitras Anjilin, mengatakan, banyak kelompok kesenian hidup di lereng Gunung Merapi, antara lain reog Ponorogo, jatilan, soreng, campur, dan topeng iren. Kelompok-kelompok tersebut rutin tampil di tengah masyarakat.

"Belum ada titik temu antara Disparbud dengan pelaku seni. Seharusnya ada kerja sama sehingga kesenian bergairah dan berkembang. Pemerintah harus memberi ruang bagi seniman, kebebasan beraktivitas dan perhatian. Hal ini bukan soal uang melainkan perhatian. Seniman diberi kesempatan sudah seneng," katanya.

Menurut dia, karakter seniman adalah memberi dan menghidupi kesenian bukan mencari hidup dari kesenian.



Pewarta:
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026