Logo Header Antaranews Jateng

Petani Banyumas Sulit Jual Gabah Simpanan

Selasa, 11 September 2012 20:34 WIB
Image Print
Ilustrasi (antarafoto.com)

"Saya masih menyimpan 4 ton gabah hasil panen musim lalu. Namun saya kesulitan menjualnya karena kata pedagang, beras yang akan dihasilkan dari gabah tersebut berwarna kuning lantaran sudah terlalu lama disimpan," kata seorang petani, Sudar (42) di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Banyumas, Selasa.

Menurut dia, pedagang hanya mau membeli gabah hasil simpanan petani tersebut dengan harga di bawah pasaran.

Padahal saat ini, kata dia, harga gabah kering giling di pasaran sama dengan harga pembelian pemerintah (HPP), yakni sebesar Rp4.200 per kilogram.

"Pedagang hanya mau beli dengan harga Rp3.800 - Rp3.900 per kilogram," katanya.

Petani di Desa Kebasen, Kecamatan Kebasen, Tikno (53) juga mengaku kesulitan menjual 2 ton gabah yang disimpannya sejak musim panen lalu.

"Saya ingin menjualnya, tapi pedagang selalu menolak dengan alasan beras yang akan dihasilkan kualitasnya buruk," katanya.

Sementara itu, seorang pedagang beras di Patikraja, Karso (47) mengaku tidak berani mengambil risiko jika membeli gabah simpanan petani sesuai harga pasaran.

Oleh karena itu, kata dia, gabah tersebut dibeli dengan harga di bawah pasaran.

"Beras yang dihasilkan dari gabah simpanan tersebut nantinya akan dicampur dengan beras yang kualitasnya bagus. Kalau tidak dicampur, kami kesulitan menjual beras dari gabah simpanan tersebut karena warnanya kuning," katanya.

Secara terpisah, Kepala Humas Bulog Subdivre IV Banyumas M Priyono mengatakan, saat ini kemungkinan masih banyak petani yang menyimpan gabah hasil panen musim lalu karena tingkat penyerapan yang dilakukan Bulog Banyumas masih jauh dari tingkat produksi petani yang dicatat Dinas Pertanian.

Kendati demikian, dia mengatakan, penyerapan yang dilakukan Bulog Banyumas hampir melampaui target meskipun masih di bawah tingkat produksi petani pada musim panen lalu.

Akan tetapi, kata dia, pihaknya tidak begitu saja menyerap gabah simpanan petani karena Bulog memiliki standar kualitas dalam pembelian gabah dan beras.

"Dalam proses penyerapan gabah atau beras, kita memiliki standar kualitas tertentu. Kalau berasnya sudah kuning, kita tidak bisa membeli karena beras itu akan kita salurkan lagi ke masyarakat dalam program raskin," katanya.



Pewarta:
Editor: Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026