Logo Header Antaranews Jateng

Omzet Penjual Gerabah Dugderan Anjlok

Kamis, 19 Juli 2012 19:30 WIB
Image Print
gerabah

Berdasarkan keterangan sejumlah penjual gerabah yang ditemui di sekitar Pasar Johar Semarang, Kamis, selama dibukanya ajang "Dugderan" pada tahun 2011 tiap pedagang bisa menjual hingga 20 truk gerabah. Namun, hingga satu hari sebelum dimulainya puasa tahun ini seorang pedagang mengaku baru bisa menjual tujuh truk gerabah.

Omzet yang diterima pedagang yang rata-rata baru dapat menjual kurang dari sepuluh truk gerabah itu baru 35 persen dibandingkan tahun 2011.

"Penurunan omzet tersebut, antara lain disebabkan datangnya bulan puasa bersamaan dengan tahun ajaran baru sekolah sehingga uang pembeli dipakai untuk biaya sekolah," kata Aminah (53) salah satu penjual gerabah.

Ia mengatakan bahwa dirinya sebenarnya selalu menjual gerabah dengan harga yang wajar dan mengambil keuntungan sebesar Rp10 ribu dari harga pengrajin gerabah.

"Harga gerabah dari pengrajin gerabah berkisar Rp40 ribu dan saya jual dengan harga berkisar Rp50 ribu untuk gerabah besar, sedangkan untuk gerabah kecil dari pengrajin berkisar Rp9.000,00 dan saya jual Rp15 ribu," ujarnya yang mengaku memperoleh pinjaman dari bank untuk modal menjual gerabah di ajang "Dugderan".

Hal serupa juga dialami oleh Sugiman (38), pedagang gerabah yang mengaku mengalami penurunan omzet pada ajang "Dugderan" tahun ini.

"Harapannya semoga sampai hari terakhir gerabah dagangan bisa lebih laku terjual," tambahnya.

Berdasarkan pantauan di ajang "Dugderan", macam-macam gerabah yang dijual oleh para pedagang yang berasal dari Kota Semarang itu berupa celengan berbentuk harimau, sapi, dan ayam.

Selain penjual gerabah, beberapa penjual mainan anak-anak yang dijual di acara "Dugderan" juga mengaku mengalami penurunan omzet.



Pewarta:
Editor: hernawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026