
Anak pintar, tetapi mudah menyerah

Solo (ANTARA) - Di banyak sekolah, kita sering menjumpai fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Ada anak yang memiliki kecerdasan tinggi, nilai akademik baik, cepat memahami pelajaran, bahkan menjadi langganan juara. Namun, ketika menghadapi tantangan yang sedikit lebih sulit, mereka justru memilih berhenti.
Mereka enggan mencoba kembali setelah gagal, takut dikritik, dan kehilangan semangat ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Fenomena ini menjadi ironi di dunia pendidikan saat ini. Kecerdasan ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan daya juang dan ketahan malangan.
Anak yang pintar belum tentu memiliki ketangguhan menghadapi kesulitan. Sebaliknya, tidak sedikit anak dengan kemampuan akademik biasa justru mampu berkembang pesat karena memiliki kegigihan, kesabaran, dan kemauan belajar dari setiap kegagalan.
Kondisi tersebut patut menjadi perhatian bersama termasuk panitia penerimaan siswa baru. Di era yang penuh perubahan seperti sekarang, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas dan memiliki nilai akademik tinggi, tetapi juga pribadi yang tangguh, adaptif, dan mampu bangkit ketika menghadapi kegagalan.
Salah satu penyebab anak mudah menyerah adalah pola pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil. Sejak kecil, banyak anak dibiasakan mengejar nilai sempurna, peringkat kelas, atau penghargaan. Kesalahan sering dipandang sebagai sesuatu yang memalukan, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya harus selalu berhasil.
Ketika suatu saat mereka menemui soal yang sulit, gagal dalam perlombaan, atau mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan, rasa percaya dirinya langsung menurun. Mereka merasa gagal sebagai pribadi, bukan sekadar gagal dalam satu proses belajar.
Fenomena ini diperkuat oleh budaya yang sering memberikan pujian berdasarkan kecerdasan. Kalimat seperti “Kamu memang pintar”, “Kamu anak paling cerdas”, atau “Nilaimu pasti paling tinggi” terdengar positif, tetapi jika diucapkan terus-menerus dapat membentuk cara berpikir yang keliru. Anak menjadi takut kehilangan label “pintar". Mereka cenderung menghindari tantangan karena khawatir gagal dan dianggap tidak lagi cerdas.
Psikolog Carol Dweck menyebut kondisi tersebut sebagai fixed mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan merupakan sesuatu yang tetap dan tidak dapat berkembang. Sebaliknya, anak dengan growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat ditingkatkan melalui latihan, pengalaman, dan kerja keras.
Dalam praktik pendidikan, yang perlu diapresiasi bukan hanya hasil akhir, melainkan juga proses belajar. Ketika anak berusaha keras menyelesaikan soal yang sulit, mencoba kembali setelah gagal, atau berani bertanya karena belum memahami materi, di situlah karakter tangguh sedang dibangun.
Peran orang tua menjadi sangat penting. Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar terlalu cepat membantu anak ketika menghadapi kesulitan. Semua persoalan segera diselesaikan agar anak tidak kecewa. Padahal, sedikit rasa frustrasi yang dikelola dengan baik justru melatih kemampuan memecahkan masalah.
Orang tua juga perlu mengubah cara memberikan apresiasi. Daripada hanya memuji kecerdasan, lebih baik menghargai usaha, disiplin, ketekunan, dan keberanian mencoba kembali. Kalimat sederhana seperti “Ayah bangga karena kamu tidak menyerah” seringkali memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan pujian atas nilai yang tinggi.
Guru pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Pembelajaran seharusnya memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengalami kesalahan. Kelas yang sehat bukan kelas yang semua siswanya selalu benar, melainkan kelas yang membuat siswa berani mencoba, berdiskusi, memperbaiki kesalahan, dan belajar bersama.
Model pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, diskusi kelompok, maupun pembelajaran berbasis pengalaman dapat menjadi sarana efektif membangun ketangguhan. Dalam proses tersebut, siswa belajar bahwa keberhasilan merupakan hasil dari proses panjang yang seringkali diwarnai kegagalan
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Kehidupan digital membuat banyak hal dapat diperoleh secara instan. Informasi tersedia dalam hitungan detik, jawaban dapat ditemukan melalui mesin pencari, bahkan kecerdasan buatan mampu membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Kemudahan tersebut memberikan manfaat besar, tetapi juga berpotensi mengurangi daya tahan ketika menghadapi proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran.
Karena itu, pendidikan karakter menjadi semakin relevan. Sekolah dan keluarga perlu menanamkan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh ketekunan, disiplin, kemampuan bekerja sama, pengendalian diri, serta keberanian bangkit setelah mengalami kegagalan.
Banyak tokoh dunia memberikan pelajaran berharga mengenai hal ini. Mereka tidak selalu menjadi yang paling pintar ketika masih bersekolah, tetapi memiliki ketekunan luar biasa. Keberhasilan mereka lahir dari keberanian mencoba berkali-kali, belajar dari kesalahan, dan tidak berhenti ketika menghadapi hambatan.
Indonesia membutuhkan generasi yang bukan sekadar memiliki indeks prestasi tinggi, melainkan juga memiliki daya juang yang kuat. Tantangan masa depan akan semakin kompleks, mulai dari perubahan teknologi, persaingan global, hingga dinamika dunia kerja yang terus berubah. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk bangkit setelah gagal menjadi kompetensi yang sama pentingnya dengan kemampuan akademik.
Anak-anak kita memang perlu menjadi pintar. Namun, yang jauh lebih penting adalah mereka memiliki keberanian menghadapi tantangan, ketangguhan menjalani proses, dan keyakinan bahwa setiap kegagalan merupakan kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik.
Sebab, pada akhirnya kehidupan bukan hanya dimenangkan oleh mereka yang paling cerdas, melainkan oleh mereka yang tidak berhenti melangkah ketika menghadapi kegagalan.
*Kaprodi Magister Administrasi Pendidikan FKIP UMS
Oleh Prof Dr Harsono*/Aris Wasita
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
