
LSF kampanyekan budaya "sensor mandiri"

Semarang (ANTARA) - Lembaga Sensor Film (LSF) melalui program "LSF Goes to Campus" bekerja sama dengan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang untuk menyosialisasikan "Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia".
Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF Hairus Salim di Semarang, Kamis, menegaskan komitmennya untuk memperluas edukasi mengenai pentingnya memilih tontonan secara sehat.
Ia menjelaskan bahwa peraturan penggolongan usia dibuat sebagai tanggung jawab moral pemerintah tanpa adanya penerapan sanksi pidana.
Jadi, kata dia, keberhasilan program perlindungan itu sepenuhnya bertumpu pada kesadaran masyarakat dalam memfilter tayangan bagi lingkungan terdekat mereka.
"Sensor mandiri itu artinya masyarakat sadar untuk menyaring sendiri apakah konten ini boleh ditonton oleh anak, keponakan, murid, atau santri mereka," katanya.
Tantangan penyaringan dinilai semakin mendesak akibat masifnya arus digital yang membuka akses tontonan secara bebas tanpa batasan waktu dan tempat.
Di samping peran keluarga, kesadaran itu juga harus dimiliki oleh para kreator film agar konsisten terhadap klasifikasi usia sejak awal proses produksi.
"Kami mendorong para filmmaker untuk sadar sejak sekarang. Jika film ditujukan untuk Semua Umur (SU), maka kontennya harus betul-betul steril dari visual, audio, maupun inti cerita yang bisa memengaruhi pendidikan anak," katanya.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Udinus Dr. Pujiono, yang hadir mewakili Rektor Udinus menyatakan bahwa kompetensi literasi digital sangat krusial bagi mahasiswa di tengah ledakan volume konten yang mudah diakses melalui ponsel.
"Kami menyambut baik roadshow LSF ke kampus Udinus karena di tempat kita ada program studi Animasi, Film, dan Televisi, Ilmu Komunikasi, serta Desain Komunikasi Visual (DKV)," katanya.
Di era digital saat ini, kata dia, volume film sangat besar, bahkan bisa diakses hanya dengan membuka HP sehingga jika tidak pintar dan selektif maka akan menjadi hal yang negatif.
Aturan dan etika sensor mandiri itu diharapkan tidak membatasi daya cipta mahasiswa, melainkan menjadi landasan moral yang memperkaya tugas akhir mereka.
"Mahasiswa juga harus mampu menguasai batasan-batasan kalau memproduksi film karena produksi film itu ada etikanya dan ada tujuannya. Itu nanti akan menambah bekal mahasiswa ketika membuat karya film untuk menyelesaikan studinya," katanya.
Dalam kegiatan itu, digelar talkshow interaktif menghadirkan para pakar perfilman serta akademisi, yakni Ketua Subkomisi Penyensoran LSF Hadi Artomo, Ketua Subkomisi Data dan Informasi LSF Dewi Rahmarini, serta Dosen Prodi FTV Udinus Dr. Tunggul Banjaransari.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
