
PSLB Instiper-CIRAD perkuat transformasi kakao nasional

Semarang (ANTARA) - Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta bersama CIRAD memperkuat transformasi sektor kakao nasional melalui program Indokakao seiring lonjakan permintaan global terhadap komoditas tersebut.
"Lewat program Indokakao, kami memastikan petani tidak hanya dilatih, tetapi didampingi agar inovasi benar-benar diterapkan dan berdampak pada peningkatan produktivitas," kata Direktur PSLB Instiper Agus Setyarso, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu.
Program Indokakao merupakan inisiatif strategis Indonesia-Prancis (CIRAD, lembaga penelitian dan kerja sama pertanian Prancis) dalam mendorong ketahanan pangan dan pengembangan komoditas berkelanjutan.
Sejak diluncurkan pada September 2025, Indokakao berfokus pada penguatan budi daya kakao berkelanjutan, peningkatan rantai nilai, serta ketahanan ekologis
sektor kakao nasional.
Ia mengatakan permintaan global terhadap kakao berkualitas tinggi dan berkelanjutan terus meningkat, namun Indonesia justru menghadapi tantangan serius, yakni produktivitas di tingkat petani masih stagnan dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Saat ini, produktivitas kakao Indonesia masih berada di kisaran 0,5–0,8 ton per hektare, atau jauh di bawah potensi optimal di atas 1,5 ton per ha
Lebih dari 90 persen kakao nasional, kata dia, dihasilkan oleh petani kecil yang menghadapi tantangan penuaan tanaman, serangan hama dan penyakit, serta keterbatasan akses pembiayaan dan
teknologi.
Karena itu, Indokakao mendorong pendekatan "smart agroforestry", yakni sistem budi daya yang mengintegrasikan kakao dengan pohon pelindung dan komoditas lain.
Untuk mempercepat adopsi di lapangan, PSLB Instiper menggelar pelatihan intensif diikuti 30 peserta, mulai penyuluh, fasilitator Perhutanan Sosial, pendamping LSM, hingga kelompok tani di KP2 Instiper Ungaran, Kabupaten Semarang, 14-17 April 2026.
"Program ini mencerminkan komitmen kuat lintas mitra. CIRAD menghadirkan inovasi
berbasis riset global, kami memastikan implementasi di lapangan, sementara
dukungan mitra, seperti PT PNM (Permodalan Nasional Madani) memperkuat aspek pembiayaan dan keberlanjutan usaha petani," kata Agus.
Jean-Marc Roda, selaku Regional Director at CIRAD representing INRAE and Agreenium for the SouthEast Asia mengatakan bahwa Indonesia termasuk lima besar negara penghasil kakao di dunia.
Namun, kata dia, kualitas kakao lokal masih kalah dengan kakao dari negara lain, seperti di Afrika Barat sehingga program Indokakao berupaya meningkatkan kualitas kakao Indonesia supaya diterima pasar internasional.
Sementara itu, ilmuwan dari CIRAD Christian Cilas yang juga hadir menyampaikan bahwa kakao Indonesia yang berkualitas biasa memang masih diterima pasar internasional, tetapi kebanyakan untuk kosmetik.
Dengan semakin meningkatnya kualitas kakao lokal, kata dia, para petani juga diarahkan untuk mampu mengolah kakao menjadi produk coklat batangan yang berkualitas.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
