
Kunjungan objek wisata di Jateng dinilai hanya musiman

Semarang (ANTARA) - Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Sudarsono menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola objek wisata, menyusul masih dominannya pola kunjungan yang bersifat musiman.
"Kondisi tersebut menjadi catatan penting hasil reses anggota fraksi di berbagai daerah pemilihan (dapil), khususnya di sektor pariwisata," kata Sudarsono di Semarang, Rabu.
Menurut dia, destinasi wisata di Jateng dinilai belum mampu menarik wisatawan secara konsisten sepanjang tahun dan masih bergantung pada momentum tertentu, seperti libur Lebaran dan Tahun Baru.
Dari hasil peninjauan langsung ke sejumlah destinasi, kata dia, ditemukan beragam persoalan mulai dari pengelolaan yang belum optimal hingga kurangnya inovasi dalam menarik minat wisatawan.
"Di sektor pariwisata, kami memandang perlu adanya evaluasi mendalam terhadap tata kelola objek wisata agar mampu bersaing dalam jangka panjang," katanya.
Ia menegaskan bahwa reses merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD yang tidak hanya memantau program pembangunan pemerintah, tetapi juga menyerap serta menghimpun aspirasi masyarakat secara langsung di lapangan.
"Begitulah realita yang kami dapatkan di lapangan, perlu ada pembenahan. Apalagi kita tahu bahwa pengembangan wisata sangat penting dalam menyumbang pendapatan daerah," kata anggota Komisi C DPRD Jateng itu.
Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jateng, jumlah kunjungan wisatawan pada momen libur Lebaran 2026 mencapai 687.470 orang atau meningkat 5,25 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 653.178 kunjungan.
Meski demikian, kata dia, peningkatan itu dinilai belum mencerminkan keberlanjutan kunjungan wisata sepanjang tahun.
Ia menilai bahwa tanpa pembenahan tata kelola yang serius maka potensi besar sektor pariwisata Jateng belum dapat dimaksimalkan sebagai penggerak ekonomi daerah.
"Objek wisata tidak boleh hanya ramai saat momen tertentu, tetapi harus mampu menciptakan kunjungan berkelanjutan melalui manajemen promosi yang cerdas dan terintegrasi," katanya.
Selain aspek promosi, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan di destinasi wisata, mulai dari kebersihan, keramahan, hingga penguatan narasi budaya yang menjadi daya tarik khas daerah.
"Belajar dari pengelolaan pariwisata di DIY, Jateng perlu mengedepankan kebersihan, keramahan, dan kreativitas narasi budaya agar memiliki daya saing yang kuat,” lanjut Sudarsono.
Lebih lanjut, ia meminta Pemprov Jateng untuk memperkuat dukungan dan pembinaan terhadap pelaku pariwisata, khususnya desa wisata agar mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
"Desa wisata memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menjadi ujung tombak pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Jawa Tengah," pungkasnya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
