Logo Header Antaranews Jateng

Destana bantu tekan dampak cuaca ekstrem di Purbalingga

Selasa, 27 Januari 2026 16:08 WIB
Image Print
Personel gabungan melakukan penanganan darurat di lokasi bencana banjir bandang dan tanah longsor, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (26/1/2026). ANTARA/HO-Pemkab Purbalingga

Purbalingga (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga menyatakan keberadaan Desa Tangguh Bencana (Destana) berperan penting dalam menekan dampak banjir bandang dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Purbalingga, Jawa Tengah.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon Haprindiyat di Purbalingga, Selasa, mengakui keberadaan Destana membuat proses mitigasi dan penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat sehingga korban jiwa dapat diminimalisasi.

"Dengan adanya Destana, bencana bisa dimitigasi sejak awal. Koordinasi warga lebih cepat, evakuasi berjalan lancar, dan korban jiwa bisa diminimalkan," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan seluruh proses evakuasi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, Purbalingga, telah selesai.

Menurut dia, akses jalan yang sempat terputus akibat material longsor kini sudah kembali terbuka, disertai pembersihan jalan dan pembangunan jalan darurat di sejumlah titik.

"Kebutuhan pokok para pengungsi saat ini relatif telah tercukupi. Namun, kami masih mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, terutama peralatan sekolah seperti buku tulis, seragam, sepatu, dan tas, serta kebutuhan lampu darurat, jaringan air bersih, dan alas tidur berupa kasur atau matras," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan berdasarkan pendataan yang dilakukan BPBD Purbalingga hingga Senin (26/1), pukul 23.45 WIB, jumlah pengungsi terbanyak berada di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, sebanyak 1.004 jiwa, sementara di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, tercatat 117 jiwa.

Bencana banjir bandang dan tanah longsor terjadi pada Jumat (23/1), sekitar pukul 22.00 WIB, setelah hujan lebat di lereng Gunung Slamet.

Material longsor berupa bebatuan dan pohon terbawa aliran air, sehingga berdampak di Desa Kutabawa dan Serang, Kecamatan Karangreja; serta Desa Sangkanayu dan Lambur, Kecamatan Mrebet.

Kejadian tersebut mengakibatkan sebanyak 54 unit rumah rusak berat, 21 unit rumah rusak sedang, dan 78 unit rumah rusak ringan serta merusak sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan.

Selain merusak rumah warga dan infrastruktur, bencana tersebut juga menyebabkan lahan pertanian terdampak serta menimbulkan satu korban meninggal dunia dan satu korban luka berat.

"BPBD Purbalingga bersama tim gabungan TNI, Polri, relawan, dan instansi terkait terus melakukan penanganan lanjutan, pendataan kerusakan, serta distribusi bantuan logistik kepada warga terdampak, sembari memperkuat peran Destana di wilayah rawan bencana," kata Revon.

Dalam kesempatan terpisah, Bupati Purbalingga Fahmi M Hanif mengatakan Pemerintah Kabupaten Purbalingga terus memaksimalkan penanganan darurat dengan mengerahkan personel gabungan, mendirikan dapur umum, serta membuka kembali akses jalan yang sempat terputus akibat banjir dan longsor.

"Pemerintah Kabupaten Purbalingga berkomitmen mempercepat penanganan dan pemulihan pascabencana demi memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi," katanya.



Baca juga: Pemprov Jateng dorong pemerintah perkuat hutan lindung



Pewarta :
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026