Pati (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, Jawa Tengah, menegaskan komitmennya untuk terus melawan penyebaran HIV/AIDS sebagai bagian dari upaya mencapai target global "Ending AIDS 2030", kata Wakil Bupati Pati Risma Ardhi Chandra.
"Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan pencegahan, peningkatan layanan kesehatan, serta kolaborasi lintas sektor dalam penanganan HIV/AIDS di Kabupaten Pati," ujarnya saat menghadiri peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2025 di ruang Pragola Setda Kabupaten Pati, Selasa.
Menurut dia upaya pengendalian HIV/AIDS membutuhkan peran bersama, tidak hanya dari sektor kesehatan, tetapi juga dukungan aktif masyarakat luas.
Untuk itu, kata dia, Pemkab Pati terus mendorong edukasi dan sosialisasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan HIV/AIDS, sekaligus menekan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Dengan terciptanya lingkungan yang inklusif, diharapkan ODHA dapat mengakses layanan kesehatan secara optimal, mulai dari pemeriksaan hingga pengobatan berkelanjutan. Pemerintah daerah juga berkomitmen memperkuat layanan deteksi dini, pendampingan, serta perawatan jangka panjang demi menjaga kualitas hidup penderita.
Peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2025 di Kabupaten Pati mengusung tema "Tangguh dan Mandiri Bersama Cegah Penularan HIV dan Penanggulangan AIDS di Kabupaten Pati". Tema tersebut menegaskan pentingnya kebangkitan dan perubahan menyeluruh untuk mengatasi berbagai hambatan dalam pencapaian target nasional.
"Melalui tema ini, kami ingin mengajak seluruh pihak memperkuat ketahanan sistem kesehatan dan mempercepat transformasi layanan HIV agar lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan," ujarnya.
Chandra memaparkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Pati mencatat sejak tahun 1996 hingga Oktober 2025 ditemukan 3.257 kasus HIV dan AIDS, dengan 553 penderita meninggal dunia. Sementara itu, pada periode Januari hingga Oktober 2025 tercatat 272 kasus baru, dengan 33 penderita meninggal dunia.
Kasus HIV/AIDS tersebut tersebar di 21 kecamatan dan lebih dari 300 desa, dengan mayoritas penderita berada pada usia produktif. Meski demikian, kasus juga ditemukan pada kelompok usia balita, remaja, hingga lanjut usia.
Ia menegaskan bahwa penanggulangan HIV dan AIDS tidak dapat dilakukan secara parsial.
"Perkembangan kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Pati menjadi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama. Kita tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh elemen serta partisipasi aktif masyarakat," ujarnya.
Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV), serta peningkatan akses pemeriksaan, pengobatan, dan dukungan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Chandra menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Pati, termasuk tenaga kesehatan, komunitas, serta mitra seperti Yayasan Sokoguru, SSR Fatayat NU, dan Yayasan Mentari Sehat Indonesia.
"Harapan kami, kerja sama lintas sektor yang sudah terjalin ini dapat terus ditingkatkan, termasuk dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai mediator edukasi dan perubahan perilaku," ujarnya.
Baca juga: Pemkab Banyumas tekankan pentingnya solidaritas dan kepedulian terhadap HIV-AIDS

