Logo Header Antaranews Jateng

Pemprov Jateng optimistis bauran energi baru terbarukan capai target di akhir tahun

Jumat, 7 November 2025 07:12 WIB
Image Print
Peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Pabrik Semarang Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia, di Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (6/11/2025). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Kabupaten Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis bauran energi baru terbarukan (EBT) di wilayah tersebut pada akhir tahun ini bisa mencapai target 21,32 persen dari total penggunaan energi.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jateng Sujarwanto Dwiatmoko di Kabupaten Semarang, Kamis, menyebutkan Jateng hingga tahun 2024 telah berhasil memanfaatkan 18,55 persen EBT dalam penggunaan energinya.

"Transisi (energi) menjadi keharusan bukan sekadar pilihan," katanya, saat peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Suara (PLTS) Atap Pabrik Semarang Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia.

Menurut dia, target tersebut telah tertuang pada Peraturan Daerah Nomor 12/2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi Jateng, yakni sebesar 21,32 persen pada tahun 2025 dan 28,82 persen pada tahun 2050 dari total bauran energi di Jateng,

Menurut dia, Jateng saat ini sedang mengembangkan potensi mikrohidro di wilayah aliran sungai, seperti Banyumas, energi bayu atau angin di Demak dan Brebes, serta energi panas bumi di Wonosobo dan Tegal.

Usaha yang dilakukan Pemprov Jateng itu, kata dia, berjalan beriringan dengan upaya pelaku industri seperti CCEP Indonesia yang mulai memanfaatkan PLST Atap di fasilitas produksinya.

Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Ritel PT PLN (Persero) Daniel Lestanto mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan instalasi PLTS Atap dari sektor industri.

Ia menyebutkan komitmen itu terlihat dalam rekomposisi kuota PLTS Atap yang diakomodasi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN bahwa hingga 2028, terdapat kuota pembangkitan PLTS Atap hingga 2 GWP.

"Kami punya daftar tunggu sekitar 375 MWp (MegaWatt peak). Artinya, 'demand'-nya itu sudah ada dan harus bisa kami angkut semua, supaya bisa tercover. Harapan kami, industri-industri lain bisa mengikuti CCEP Indonesia," katanya.

Perkembangan jumlah pelanggan PLTS Atap di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan karena hingga September 2025 tercatat daya terpasang dari fasilitas PLTS Atap telah mencapai 708 MWp, dan 567 MWp di antaranya berasal dari sektor industri.

Di Jateng, ada sekitar 2.000-2.500 industri yang telah memanfaatkan PLTS Atap tersebut dengan beban puncak sekitar 88 MWp

Sementara itu, Head of Sustainability CCEP Indonesia Natasha Gabriella menegaskan keputusan perusahaan untuk beralih ke energi bersih didorong oleh strategi keberlanjutan jangka panjang dan tuntutan pasar global.

"Kami percaya jika kami ingin bisnis kami bertahan untuk jangka panjang, bukan hanya 5-10 tahun tapi mungkin hingga 100 tahun dari sekarang, memang harus dilakukan secara berkelanjutan," katanya.

PLTS Atap dibangun di atas lahan 13.722 meter persegi dengan 2.197 modul surya berkapasitas 1,2 MWp yang sanggup memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan energi harian pabrik dan menurunkan emisi hingga 1.700 ton karbon dioksida ekuivalen per tahun.

Director of Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia Lucia Karina menambahkan bahwa inisiatif energi bersih tidak hanya terbatas pada pemanfaatan panel surya, tetapi perusahaan terus menilai opsi lain.

"Ini merupakan pabrik ketiga yang kami pasang PLTS Atap. Pertama, pabrik kami di Bekasi, kemudian Pabrik Pasuruan, dan ketiga Pabrik Semarang," katanya.


Baca juga: PLN perkuat transformasi SDM sebagai fondasi transisi energi berkelanjutan di forum HAPUA Working Group 5 ke-13



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026