Batang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Batang hingga kini masih menunggu hasil uji laboratorium terkait dengan kasus keracunan 800 siswa SMK Kandeman dan Sekolah Dasar Watesalit yang diduga disebabkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), belum lama ini.
Bupati Batang Faiz Kurniawan di Batang, Kamis, memastikan layanan program MBG tetap berjalan dengan aman dan sesuai standar.
"Saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratorium. Dua-duanya sedang melalui proses uji laboratorium. Kalau hasilnya terbukti bersumber dari makanan yang tidak sesuai maka kami akan bersurat ke Badan Gizi Nasional untuk melakukan review dan audit terhadap izin SPPG yang terkait," katanya.
Di sela meninjau pelaksanaan program MBG di SDN 1 Pandansari, Kecamatan Warungasem, ia mengatakan, satuan pelaksana pemenuhan gizi (SPPG) yang diduga terlibat kasus keracunan menimpa pada siswa, kini sudah dinonaktifkan sementara waktu.
Pemerintah daerah memastikan layanan MBG tetap berjalan dengan aman dan sesuai standar.
"Kami pastikan tidak ada lagi kejadian keracunan di daerah. Kalau ada satu saja terbukti akibat makanan dari SPPG maka kami akan minta izin operasionalnya dicabut," katanya.
Pihaknya akan menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk membuat standar operasional prosedur (SOP) baru terkait dengan evaluasi menu program MBG di sekolah.
Nantinya, kata dia, setiap sekolah diwajibkan membuat grup komunikasi antara pihak sekolah, orang tua, dan penyedia makanan.
"Nantinya akan ada dua review yaitu dari anak-anak dan dari orang tua. SPPG perlu tahu apa yang disukai anak-anak, apa yang tidak, dan apa yang mungkin menimbulkan intoleransi makanan," katanya.
Ia berharap, melalui mekanisme ini pelaksanaan program MBG bisa lebih transparan dan adaptif terhadap kebutuhan gizi anak-anak.
"Kami ingin program baik ini berjalan maksimal, memberikan manfaat nyata, dan menenangkan orang tua bahwa makanan yang diterima anak-anak benar-benar aman dan bergizi," katanya.

