Program deradikalisasi perlu memperhatikan aspek kultural

id radikalisme

Program deradikalisasi perlu memperhatikan aspek kultural

Akademisi Universitas Jenderal Soedirman Edi Santoso. ANTARA/Wuryanti Puspitasari

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Edi Santoso mengatakan bahwa program deradikalisasi perlu memperhatikan berbagai aspek, salah satunya aspek kultural.

"Deradikalisasi harus dilakukan dengan memperhatikan banyak aspek, misalnya sisi-sisi kultural jangan sampai deradikalisasi justru memicu radikalisme baru," kata Edi Santoso di Purwokerto, Selasa.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed ini memandang perlu pelaksanaan deradikalisasi secara komprehensif dengan pendekatan lokal dan kontekstual.

"Deradikalisasi mestinya merupakan kerja-kerja budaya. Kerja budaya itu menimbang banyak aspek. Komprehensif, dengan pendekatan lokal dan kontekstual," katanya.

Edi Santoso yang juga Koordinator Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Unsoed mengutarakan bahwa deradikalisasi bisa melibatkan tokoh masyarakat dengan cara persuasif dan pendekatan kultural.

Baca juga: Pengamat sebut perlu pemahaman tepat soal radikalisme-deradikalisme

"Deradikalisasi jangan sampai dilakukan dengan cara 'teriak-teriak' karena yang seharusnya dilakukan adalah mendalami masalah, identifikasi akarnya, lalu cari solusi yang tepat," kata Edi Santoso.

Ia melanjutkan, "Radikal sebagai sebuah sikap bisa jadi lahir dari sebab yang sangat kompleks."

Ditegaskan pula bahwa radikalisme itu sikap, cara pandang radikal, yang berorientasi pada perubahan mendasar. Misalnya, bermaksud mengubah sistem yang sudah berjalan.

"Berkaitan dengan agama, itu menyangkut spirit yang melandasinya. Misalnya, ada yang menafsirkan agama secara radikal bahwa agama menuntut pemeluknya untuk melakukan perjuangan menerapkan sistem sesuai dengan agamanya," kata Edi Santoso.

Namun, tidak ada hubungan langsung antara radikalisme dan agama. Begitu pula, lanjut Edi Santoso, tidak ada hubungan langsung antara keyakinan fikih yang berkaitan dengan pakaian dan sikap radikal.

Baca juga: Jenggot, celana cingkrang, dan cadar bukan ciri pelaku terorisme

"Oleh karena itu, jangan sampai mudah memberikan cap radikalisme hanya karena tampilan-tampilan fisik yang sifatnya artifisial," kata Edi Santoso.

Menurut dia, sikap sembrono memberikan stigma radikal malah memunculkan radikalisme yang sesungguhnya.

Selain itu, Edi Santoso juga menilai radikalisme tidak sama dengan terorisme. Namun dia mengakui bahwa terorisme sering kali berangkat dari pemikiran radikal.

"Nah, upaya deradikalisasi sejatinya adalah ikhtiar untuk meluruskan pandangan yang berpotensi menciptakan konflik horisontal," kata Edi Santoso.

Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar