Menunggu maut menjemput secara bermartabat

id Asisi Hospice,Penyakit paliatif,Singapura

Menunggu maut menjemput secara bermartabat

Head Communications and Community Engagement Asisi Hospice, Juliet Ng memperlihatkan fasilitas yang nyaman di Asisi Hospice. (ANTARA/Desi Purnamawati)

Singapura (ANTARA) - Semua makhluk hidup pasti akan mati, tapi cara menjemput kematiannya saja yang mungkin berbeda-beda.

Bagaimana pun caranya, tentu semua orang berharap bisa meninggalkan dunia dengan tenang, nyaman, dan tentunya tetap dengan harga diri tanpa menyisakan penyesalan bagi yang ditinggalkan.

Begitu juga tentunya dengan mereka yang menderita penyakit kronis dengan stadium lanjut yang tidak dapat disembuhkan, ibaratnya mereka hanya tinggal menunggu kematian.

Mungkin sebagian besar mereka yang menderita penyakit paliatif tersebut hanya terbaring di tempat tidur tanpa bisa melakukan apapun.

Tapi tidak di Asisi Hospice Singapura. Dengan filosofi perawatan "Hidup dengan nyaman dan harga diri", para perawat, dokter maupun relawan mendukung para pasien paliatif dengan cara terbaik yang bisa mereka lakukan.

Perawatan paliatif di Asisi Hospice adalah memberikan penguatan agar hidup penuh dengan kenyamanan dan harga diri di sisa-sisa umur mereka.

Di Asisi Hospice, mereka diajak untuk tetap berkegiatan, bersosialisasi bahkan bagi mereka yang tanpa keluarga pun tak akan meninggal sendiri.

Bahkan tidak jarang, para relawan yang mendampingi juga turut merasakan guncangan akibat kematian pasien karena begitu dekatnya hubungan mereka.

Relawan akan mendampingi mereka di akhir hayatnya, setidaknya 48 jam atau 72 jam sebelum pasien mengembuskan nafas terakhirnya.

"Kami sangat percaya keterlibatan relawan sangat penting bagi penderita paliatif," kata Head Communications and Community Engagement Asisi Hospice, Juliet Ng.

Begitu juga dengan keluarga, Juliet juga mengatakan bahwa masalah penderita penyakit paliatif bukan hanya terkait pasiennya, tapi juga keluarga.

Keluarga pasien dipastikan akan kehilangan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa semua orang juga akan mengalami hal yang sama.

Menghapus Penyesalan

Kematian, memang tidak bisa dihindarkan, tapi yang menjadi masalah adalah ketika penderita penyakit paliatif merasa menjadi tidak berguna dan tidak mampu berbuat meski hal kecil.

Penyesalan atas ketidakmampuan dan menganggap diri sebagai beban untuk keluarga inilah yang menjadi tujuan Asisi Hospice untuk dihilangkan.

Perawatan paliatif yang diberikan di Asisi Hospice menanamkan kepada pasien maupun keluarganya bahwa penderita penyakit paliatif masih bisa berguna sehingga mereka tetap punya harga diri dengan hidup yang berkualias.

Satu hal, mereka di rawat di Asisi Hospice karena pasien paliatif memang membutuhkan penanganan ahli, bukan untuk disingkirkan.

Saat ini sekitar 75 persen pasien yang dirawat di Asisi Hospice merupakan penderita kanker stadium lanjut. Pasien yang dirawat sebanyak 27 persen berusia 71-80 tahun, 25 persen yang berusia 81-90 tahun dan hanya tujuh persen yang berusia di atas 90 tahun.

Lalu ada sebanyak 21 persen yang berusia 61-70 tahun, 14 persen pasien berusia 51-60 tahun, empat persen berusia 41-50 tahun serta tiga persen yang berusia di bawah 40 tahun.

Untuk perawatan para pasien dan operasional lainnya dibutuhkan dana sekitar 20 juta dolar Singapura per tahun yang sebagian besar atau 60 persen bersumber dari donasi, 30 persen dari pemerintah dan selebihnya dari biaya yang dibayar pasien sebesar 10 dolar Singapura per hari.

Perawatan diberikan dalam bentuk day care, home care dan pasien rawat inap. Mereka diberi berbagai terapi termasuk terapi musik dan seni. Dengan fasilitas yang lengkap di Asisi Hospice, pasien paliatif bisa hidup nyaman di akhir hayatnya.

Karena membutuhkan perawatan ahli maka perawat, dokter maupun relawan perlu pelatihan khusus mengenai perawatan paliatif.

Di Singapura sendiri, kasus kanker telah meningkat selama bertahun-tahun dimana satu dari setiap empat hingga lima orang dapat terkena kanker selama masa hidup mereka.

Data Globocan menyebutkan di 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru kanker dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian, dimana satu dari lima laki-laki dan satu dari enam perempuan di dunia mengalami kejadian kanker.

Data tersebut juga menyatakan satu dari delapan laki-laki dan satu dari 11 perempuan, meninggal karena kanker.

Begitu juga dengan di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan RI angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan delapan di Asia Tenggara dan urutan ke 23 di Asia.

Melihat fakta tersebut, Singapura dan Indonesia bekerja sama dalam pemberdayaan pelatihan perawatan paliatif yang dinamakan Enabling Palliative Care Trainers.

Kerja sama spesialis perawatan bagi relawan tersebut dilaksanakan selama tiga tahun oleh Singapore International Foudation (SIF), Yayasan Kanker Indonesia (YKI), YKI cabang Jawa Barat dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Salah seorang Citizen Ambassador SIF Dr Ramaswamy Akhileswaran mengatakan dirinya mengunjungi Jakarta pada 2009 dan mulai memberikan pelatihan perawatan paliatif.

Menurut dia perlahan mulai tumbuh kesadaran mengenai perawatan paliatif dan cukup perhatian seperti dari dokter, perawat dan juga masyarakat.

"Bayangkan jika ada anak 10 tahun dan ibunya memiliki penyakit yang tak ada harapan untuk sembuh dan tidak ada yang dapat merawat ibu itu, anak akan berkembang dengan memori yang cukup memprihatinkan. Karenanya kita hadir untuk mendampingi dan melatih mereka juga keluarganya," ujar Dr Akhileswaran.

Memberikan kenyamanan dan menjadikan hidup berkualitas bagi penderita paliatif lebih baik dibandingkan mereka hanya berbaring di rumah pasrah menjalani sisa usia dan kehilangan harga diri .

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar