Ganjar terkenang Shalat Ashar berdua dengan Mbah Moen

id ganjar pranowo

Ganjar terkenang Shalat Ashar berdua dengan Mbah Moen

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbincang dengan Kiai Haji Maimoen Zubaer. (Foto:Wisnu Adhi N.)

Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku terkenang saat shalat berjamaah berdua dengan Kiai Haji Maimoen Zubair di kamar ulama karismatik yang akrab disapa Mbah Moen itu, beberapa waktu lalu.

"Sebelum Mbah Moen berangkat ke Tanah Suci, saya sempat bertemu dengan beliau di kediamannya di Sarang, Rembang," kata Ganjar di Semarang, Selasa.

Saat itu, Ganjar datang tepat pukul 17.00 WIB dan belum melaksanakan Shalat Ashar.

"Awalnya saya mau shalat di masjid, tapi dilarang sama muridnya Mbah Moen. Katanya, Mas Ganjar disuruh nunggu dulu. Akhirnya saya nunggu cukup lama," ujarnya.

Sekitar 10 menit kemudian, lanjut Ganjar, Mbah Moen keluar dari kamarnya dan saat diminta santrinya untuk shalat Ashar di masjid, Mbah Moen menolak dan mengatakan ingin shalat dengan Ganjar.

"Setelah itu saya shalat berjamaah dengan Mbah Moen di kamarnya, berdua. Setelah doa, beliau mendoakan saya. Itu kenangan yang paling saya ingat," katanya.

Baca juga: Mbah Moen dan hari kematian yang telah "diramalkan"

Dalam kesempatan tersebut, Ganjar menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Mbah Moen.

"Saya atas nama pribadi, keluarga dan sebagai Gubernur Jateng menyampaikan duka yang mendalam. Innalillahi wa innailaihi rojiun, kita berdoa semoga Mbah Moen khusnul khotimah," ujar Ganjar dengan mata berkaca-kaca.

"Banyak kenangan tentang beliau. Selama saya dengan Gus Yasin mulai sejak kampanye sampai terpilih, selalu bareng beliau. Selama ini, beliau selalu memberikan pesan tentang semangat kebangsaan, patriotisme dan kenegaraan. Beliau ini sosok kiai yang nasionalis yang menjadi rujukan hampir semua orang," ujarnya.

Selain nasionalis, di mata Ganjar, sosok Mbah Moen merupakan tokoh ulama yang rendah hati dan penyayang karena meskipun almarhum tergolong kiai sepuh, namun tidak pernah menganggap orang lain lebih rendah darinya.

"Beliau seorang kiai yang sangat rendah hati dan sangat penyayang. Saya selalu digandeng dan dipeluk saat bertemu, saya merasa beliau itu sangat penyayang. Tidak pernah saya melihat ada pikiran-pikiran atau ucapan buruk yang disampaikan Mbah Moen," katanya.(LHP)

Baca juga: Menag upayakan Mbah Moen dimakamkan di Al Ma'la
Baca juga: Selamat jalan Mbah Maimoen...
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar