Sentilan ala kartunis Bilal terhadap politikus

id Bilal, kartunis, sice, slamet widodo

Sentilan ala kartunis Bilal terhadap politikus

Salah satu dari puluhan karya kartunis Bilal dalam pameran kartun bertema Pemilu 2019 di Simpang Lima Semarang, Minggu (16-6-2019). (Foto: Dok. pribadi)

Jangan mau dinikahi orang golput, cuma dibuka, dilihat, tanpa dicoblos.
Semarang (ANTARA) - Kartunis Slamet Widodo--akrab disapa Bilal--menyentil kalangan politikus melalui karyanya yang dipamerkan di Simpang Lima Semarang, Minggu.

Pameran kartun "Penyejuk SuaSANA SuaSINI" yang diselenggarakan 
Yayasan Fi’la Khoirot Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan anak duafa dan yatim piatu bekerja sama dengan Semarang International Cartoon Exhibition (SICE) hanya menampilkan karya kartunis Bilal dengan tema Pemilu 2019.

Menurut rencana, dua yayasan ini yang mendapat dukungan dari media partner dan instansi terkait akan menggelar pameran kartun sebulan sekali dengan tema berbeda dari kartunis terkenal yang berbeda pula, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. 

Adapun tujuannya adalah memberi pendidikan dan hiburan lewat kartun kepada masyarakat. Mengapa dengan kartun? Kartun mudah dimengerti dan disukai banyak orang. Selain itu, menjalin kerja sama saling menguntungkan antara swasta, negeri, dan pemangku kepentingan.

Seperti diketahui, sampai tahapan akhir masih hiruk pikuk. Hal ini menjadi lezat jika disajikan melalui gambar kartun apalagi oleh kartunis berpengalaman, seperti Slamet Widodo, kata Arif Romadhon selaku ketua panitia.

"Sangat langka kartunis Semarang pameran tunggal. Biasanya mereka lakukan secara rombongan. Jadi, peristiwa ini wajib didukung dan diapresiasi,“ kata Arif Romadhon.

Slamet Widodo, kata Arif Romadhon, selain sebagai kartunis, dia juga sebagai penyelenggara lokakarya, lomba, dan pameran kartun bersekala internasional.

Jateng Gayeng dalam Kartun, misalnya, terselenggarakan 3 tahun berturut sejak 2016. Kegiatan ini selalu diikuti minimal 300 kartunis dari 50 negara.

Selain itu, Festival Kartun Ramadhan (2012), Lomba Kartun OJK (2013), Canda Pilgub Jateng (2013), Kartun Rob Galeri Nasional ( 2013 ), Kartun Wisata Kota ( 2014 ), Kartun Melawan Korupsi ( 2015 ), Kartun Piala Dunia ( 2018 ).

Dari sinilah, kata Arif Romadhon,  lahir kartunis-kartunis muda berbakat dan berprestasi internasional. Seiring dengan muncul pula pejuang-pejuang kartun, seperti Koesnan Hoesie, Leak Kustiya, Boedy H.P., Darsono, Sudarmanto, Partono, Chudlori Sutisna, Ikhsan Dwiono, sampai Agus Eko Santoso yang notabene pegawai negeri tetapi masih mau bekerja keras mempertahankan Semarang sebagai Ibu Kota, bahkan Nenek Kota Kartun Indonesia (Jaya Suprana 2018).

Pameran tunggal Slamet Widodo di pusat Kota ATLAS mendapat perhatian banyak warga, mulai anak sampai dewasa, rakyat hingga pejabat. 

Seorang anak kecil tertarik dengan gambar seorang politikus sontoloyo yang mencuri start kampanye, sementara kakaknya yang cewek  terpingkal dengan pesan kartun “Jangan mau dinikahi orang golput, cuma dibuka, dilihat, tanpa dicoblos“.

Sepasang suami istri  berdebat saat melihat kartun “Aku juga mau dicoblos, Pak“. Dalam visualisasi, digambarkan seorang suami yang asyik memelototi iklan TV caleg cantik, sementara istrinya dicueki.

Seorang caleg jadi yang namanya minta dirahasiakan, datang juga menyaksikan. Cuma dia sedikit tersindir dengan gambar seseorang berdasi sudah mati tetapi tangannya masih memegang erat sebuah kursi kekuasaan. 

Walau begitu, anggota DPRD Kota Semarang ini mendukung kritik membangun lewat kartun dan mengharap kegiatan ini rutin diselenggarakan.
Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar