Logo Header Antaranews Jateng

Tokoh agama di Semarang tolak "people power"

Selasa, 14 Mei 2019 22:03 WIB
Image Print
Pemimpin Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, KH Nuril Arifin Husein, atau yang biasa disapa Gus Nuril. (ANTARA News/Natisha)

Semarang (ANTARA) - Para tokoh agama di Kota Semarang menolak ajakan gerakan "people power" sebagai bagian dari penolakan hasil Pemilu 2019 yang akan diumumkan KPU pada 22 Mei.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang K.H. Anasom di Semarang, Selasa, meminta masyarakat jangan sampai terprovokasi dengan gerakan "people power".

"Masyarakat harus bahu-membahu mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI, jangan sampai terpecah karena 'people power'," katanya.

Menurut dia, gerakan inkonstitusional tersebut berpotensi memecah belah bangsa dan berujung pada kehancuran.

Ia meminta masyarakat bersabar menunggu hasil perhitungan pemilu yang akan diumumkan pada tanggal 22 Mei mendatang.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal Semarang K.H. Nuril Arifin Husen juga tegas menolak gerakan "people power".

"Masyarakat jangan terpancing demi utuhnya NKRI dan terjalinnya kebinekaan," katanya.

Usai pemilu, menurut dia, kerukunan antarumat beragama harus tetap dirawat.

Ajakan untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan umat juga disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang Erfan Subahar.

Ia menyatakan siap menghormati keputusan KPU atas hasil pemilu demi kesatuan dan persatuan umat.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026