
Warga Jateng inginkan Pemilu 2019 berlangsung Damai

Semarang (Antaranews Jateng) - Warga Jawa Tengah menginginkan Pemilu 2019 dapat berlangsung damai dan maraknya kasus teror pembakaran kendaraan bermotor diharapkan dapat segera ditangani oleh TNI/Polri serta stakeholder terkait.
Sudiyanto, warga Perumahan Asabri Blok D3/12 Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Semarang, berharap pihak berwajib dapat bertindak tegas karena teror pembakaran kendaraan bermotor juga mengakibatkan kerugian materi oleh warga yang menjadi korban.
Hal sama juga disampaikan inisiator Generasi Muda (Garda) JOE Jawa Tengah Erik BM yang menilai teror kendaraan bermotor harus segera ditemukan titik terang mengenai niat atau motifnya karena waktunya yang mendekati tanggal 17 April 2019, pelaksanaan Pemilu.
"Kami berharap kondisi di Semarang menjelang Pemilu 2019 aman dan tertib. Peristiwa Pembakaran kendaraan oleh orang tidak dikenal ada kemungkinan hanya untuk mengalihkan fokus perhatian aparat keamanan," katanya.
Pakar Komunikasi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang Gunawan Witjaksana mengatakan adanya penilaian peristiwa pembakaran berkaitan dengan Pemilu 2019, tidak salah karena sekadar dugaan.
"Jika biasanya Jateng tenang, tiba-tiba ada kejadian tersebut (pembakaran kendaraan, red.) dan muncul sejumlah dugaan, tentu tidak salah. Mudah-mudahan tidak ada kaitannya. Saat ini yang dibutuhkan adalah mencari bukti. Kepolisian dibantu TNI bisa segera menemukan dalang, pelaku, dan motifnya, sehingga masyarakat bisa lebih tenang," kata Gunawan.
Komunikasi pararasional atau komunikasi yang tidak rasional di tengah masyarakat, tambah Gunawan menjadi sangat tinggi menjadikan positif karena segaris dengan meningginya tingkat kewaspadaan di tengah masyarakat.
Hal sama juga disampaikan pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Fitriyah yang menilai upaya teror pembakaran kendaraan bermotor bisa saja menambah problem menjelang pemilu, apalagi kandidat Pilpres 2019 hanya dua kandidat sehingga kompitisinya sangat ketat.
"Jika dilihat, terjadi pola yang sama saat pilgub dan pilpres hanya dua kandidat, maka yang ada menang dan kalah serta ada keinginan untuk menunjukkan yang paling. Terkait adanya pembakaran kendaraan bermotor, terlihat sporadis dan tidak jelas target yang disasar. Memang jika disebut iseng, sangat keterlaluan karena sangat merugikan dan meresahkan," katanya.
Fitriyah menilai langkah stakeholder yang telah bergerak cepat diikuti masyarakat yang menghidupkan kembali semangat kebersamaan seperti roda malam/siskampling sangat positif karena seperti mengingatkan kembali pentingnya kebersamaan, komunikasi antartetangga, dan berbagi peran dalam lingkungan sekitar.
"Di tengah kehidupan yang serba individual karena kemajuan teknologi setiap orang sibuk dengan gadgetnya/handphone, ronda malam seperti mengingatkan kembali bahwa kita adalah komunal dan sangat penting untuk menguatkan rasa kebersamaan, rasa memiliki dan cinta terhadap negara, sehingga dapat tumbuh ketenangan (menjelang Pemilu 2019 dan seterusnya, red.)," demikian Fitriyah.
Pewarta: Nur Istibsaroh
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
