Desa Kudus makin termotivasi gelar atraksi

id atraksi budaya,desa di kudus, semakin termotivasi,menggelar atraksi budaya

Desa Kudus makin termotivasi gelar atraksi

Sejumlah peseta kirab gunungan di Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tengah mengusung gunungan yang berisi sayur-mayur dan buah-buahan yang merupakan hasil bumi masyarakat setempat, Kamis (27/9). (FOTO: Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus,  (Antaranews Jateng) - Sejumlah desa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, semakin termovitasi untuk menggelar atraksi seni dan budaya karena menjadi ajang promosi wisata sekaligus untuk memenuhi persyaratan agar bisa ditetapkan sebagai desa rintisan wisata.
     
Salah satu desa yang mulai mengemas atraksi budaya menjadi semakin menarik, yakni Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus dengan menggelar kirab gunungan dan pusaka dalam rangka memperingati khaulnya Ki Ageng Sipah Darmowinoto yang menjadi cikal bakal munculnya nama Desa Karangrowo, Kamis (27/9).
     
Menurut Kepala Desa Karangrowo Heri Darwanto di Kudus, Kamis, kirab gunungan yang digelar hari ini (27/9) merupakan yang ke-16, namun baru tahun ini dikemas menjadi lebih menarik.
     
Selain jumlah peserta kirab yang semakin banyak, jumlah gunungan yang dibawa para peserta kirab juga cukup banyak mencapai 13 gunungan yang merupakan hasil bumi masyarakat sekitar, mulai dari dari sayur-sayuran, nasi, buah, dan lainnya.
     
Dalam kirab tersebut, juga ada dua tombak milik Ki Ageng Sipah yang ikut dikirab agar masyarakat juga mengetahui potensi budaya dan seni yang ada di Desa Karangrowo.
     
Atraksi budaya ini, lanjut dia, juga dalam rangka menuju desa rintisan wisata, mengingat Desa Karangrowo juga memiliki potensi lain yang bisa ditawarkan menjadi daya tarik wisata.
     
Di antaranya, potensi wisata air karena terdapat tempat penampungan air yang cukup besar yang bisa dikembangkan agar menjadi daya tarik wisata.
     
Kirab pusaka dan 13 gunungan tersebut, dimulai dari halaman Masjid Baitul Naim menuju jalan desa, termasuk ke Perkampungan Betetan yang sebelumnya pernah didiami KI Ageng Sipah sebelum akhirnya pindah ke utara sungai. 
     
Meskipun kirab digelar di desa yang jauh dari wilayah perkotaan, namun masyarakatnya cukup antusias mengikuti kegiatan kirab yang berakhir pada sore hari.
     
Alunan salawat juga mengiringi kegiatan kirab gunungan serta ada pula peserta yang mengenakan topeng serta baju adat. 
     
Sekretaris Kecamatan Undaan Sancaka Dwi Supani mengungkapkan masing-masing desa di Kecamatan Undaan memang didorong untuk menggelar atraksi budaya, sebagai salah satu ajang untuk mempromosikan potensi wisata maupun usaha mikro kecil menengah yang ada di desanya.
     
Atraksi wisata yang digelar oleh masyarakat Desa Karangrowo, kata dia, nantinya akan tampil pada ajang kirab budaya tingkat kabupaten yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Kudus hingga Markas Kodim 0722/Kudus pada 3 Oktober 2018.
     
"Mudah-mudahan, atraksi budaya dari Desa Karangrowo menjadi yang terbaik," ujarnya.
    
Siti Warsini, salah seorang warga mengaku sangat senang adanya kirab budaya, terlebih tahun ini jauh lebih menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
     
Ia berharap atraksi budaya tersebut bisa menjadi daya tarik wisata, terutama bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, karena memiliki ciri khas tersendiri, dibandingkan daerah lainnya.
     
7Pembina Asosiasi Desa Wisata Kudus Mutrikah sejak awal mendorong setiap desa di Kudus untuk menyelenggarakan atraksi atraksi seni dan budaya agar bisa dipromosikan ke masyarakat luas.
    
"Setidaknya, ketika semua desa wisata di Kudus memiliki jadwal atraksi wisata tahunan, tentunya kegiatan tersebut bisa dimasukkan ke dalam kalender tahunan Kabupaten Kudus," ujarnya.
     
Melalui atraksi seni dan budaya maupun kuliner, maka potensi yang ada di desa setempat juga bisa ikut dipromosikan kepada masyarakat luas.
    
Beberapa desa di Kudus yang menyandang status desa rintisan wisata juga menyelenggarakan atraksi seni dan budaya, seperti Desa Kaliputu, Desa Kaliwungu, Wonosoco, Loram Kulon, Jepang, Rahtawu, Colo, Terban, Kandangmas, serta Margorejo.
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar