Perbesar komponen lokal. Menristek dorong pelaksanaan riset

id menristek,upvc

Perbesar komponen lokal. Menristek dorong pelaksanaan riset

Kendal - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir saat meninjau PT Terryham Proplas Indonesia (Kends UPVC) di Kendal, Rabu (19/9). (Foto: Zuhdiar Laeis)

Kendal (Antaranews Jateng) - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mendorong pelaksanaan riset untuk memperbesar penggunaan komponen lokal bagi kalangan industri di Indonesia.

"Kalau itu barang lokal, ada apa dengan dolar AS, tidak ada pengaruhnya," katanya usai meninjau PT Terryham Proplas Indonesia (Kends UPVC) di Kabupaten Kendal, Rabu.

Unplasticized Poly Vynil Chloride (UPVC) merupakan suatu material turunan plastik yang terhitung masih langka di Indonesia yang digunakan untuk kusen pintu dan jendela.

Nasir menyebutkan Kends UPVC terus mengembangkan riset untuk menekan penggunaan komponen impor dalam pembuatan produk UPVC sehingga memperbesar tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

"Kalau impor, materialnya impor, berpengaruh pada harga. Barang impor menyebabkan harga barang menjadi mahal," katanya, menanggapi menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah belakangan ini.

Untuk proses produksi yang lama, kata dia, UPVC sudah menggunakan 25 persen komponen dalam negeri, sementara sisanya masih impor, tetapi ke depan sudah disiapkan untuk memperbesar TKDN.

"Sekarang ini dalam proses riset untuk memperbesar TKDN minimal 60-an persen. Kalau sudah 60 persen, luar biasa. Nanti, lima tahun berikutnya 80 persen, dan seterusnya," katanya.

Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang itu mengapresiasi Kends UPVC yang terus berinovasi dari riset-risetnya untuk menekan penggunaan bahan baku dari luar negeri.

"Pimpinan perusahaan juga bekerja sama dengan Kemenristek Dikti, bagaimana material dipenuhi dalam negeri. Kalau ini dikembangkan semuanya bisa mendorong ekonomi Indonesia bergerak lebih baik," kata Nasir.

Sementara itu, Direktur PT Terryham Proplas Indonesia (Kends UPVC) Syamsunar mengatakan riset tidak selalu dimulai dulu, tetapi bisa berjalan mengikuti industri untuk mengejar ketertinggalan.

"Artinya, tidak mesti riset dulu. Industri berjalan dulu, kemudian riset bisa mengikuti. Awalnya, kami impor total komponen dengan TKDN tidak sampai 25 persen, tetapi kami terus meriset," katanya.

Dengan riset-riset yang dilakukan, kata dia, Kends UPVC berupaya untuk menggunakan 80 persen komponen lokal dalam proses produksinya yang menjadi standar nasional Indonesia (SNI).

Diakuinya, produk UPVC selama ini didominasi produk dari Tiongkok di pasaran sehingga perlu membuat standarisasi produk untuk menguatkan produk lokal, seperti Kends UPVC.

"Pangsa UPVC ini sangat besar sebagai pengganti material kayu untuk bangunan. Pasar kami sudah mulai merambah Lombok, Bangka Belitung, hingga Aceh yang sudah mulai susah kayunya," katanya.

   
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar