Mereka bawa pulang Festival Lima Gunung

id festival lima gunung, komunitas lima gunung, puncak festival

Mereka bawa pulang Festival Lima Gunung

Suasana puncak Festival Lima Gunung XVII/2018 di "Panggung Sawah" Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang, Minggu (12/8). (Foto: Hari Atmoko)

inti bahagia adalah cinta kasih. Kalau kita tidak cinta, termasuk tidak cinta alam semesta, kita hilang bahagia
"Kemeriahan acara Festival Lima Gunung XVII masih goblok bareng," begitulah pemilik akun Ulul Mastique menuliskan kesan tentang penyelenggaraan agenda seni budaya tahunan seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ia menuliskan status itu di salah satu media sosial setelah acara selama tiga hari itu rampung hingga satu jam selepas Minggu (12/8) tengah malam. Ia nampak yakin penggunaan ungkapan "masih goblok bareng` tidak akan membuat respons negatif siapa saja yang membaca, apalagi Ulul mengetahui dengan baik komunitas tersebut.

Pemilik usaha persewaan foto dan video rekaman itu, menurunkan kru-nya siang-malam dengan perangkat lengkap, termasuk kamera nir-awak, untuk mendokumentasikan rangkaian festival selama 10-12 Agustus 2018 di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang.

Sejumlah foto udara diunggahnya, berupa deretan ratusan lapak pedagang kaki lima di tepi kanan dan kiri jalan di dekat panggung pementasan dan gambar landskap areal persawahan yang menjadi salah satu arena festival ketika salah satu grup kesenian rakyat naik panggung.

Ulul bersama suaminya Fredy Sudiono sejak beberapa tahun lalu mengembangkan usaha persewaan layanan foto dan video rekaman berkantor kecil di Kota Magelang. Kalau pun tidak diminta panitia untuk mendokumentasikan festival dalam bentuk foto dan video, mereka tetap saja hadir mendokumentasikan festival yang tanpa sponsor itu.

"`Perform` (pementasan, red.) bagus-bagus dan menarik, `eman-eman` (sayang, red.) kalau dilewatkan. Masyarakat dan penontonnya juga bagian yang menghidupkan festival," ujar Fredy yang juga pegiat seni budaya Kota Magelang itu.

Seorang seniman teater dan musik puisi Munir Syalala pun, begitu tiba di kampung halamannya di Magelang dari aktivitas berkesenian di Tegal, langsung ke lokasi Festival Lima Gunung untuk menonton kemeriahan pada malam terakhir.

Begitu juga, seorang pegiat lembaga swadaya masyarakat tentang lingkungan yang juga pengunjung tetap festival, Mohamad Burhanudin. Begitu selesai agendanya di Jakarta, langsung menuju lokasi Festival Lima Gunung dengan sekitar 80 agenda padat pementasan, performa seni, pentas musik, pameran seni rupa, kirab budaya, peluncuran buku, pengajian, dan pidato kebudayaan itu.

Ia diajak budayawan dan inspirator utama Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut menemui rombongan jenderal purnawirawan TNI di ruang transit di Sanggar Wonoseni Bandongan pimpinan Pangadi. Para alumnus Akademi Militer Angkatan 1974 itu bersama isterinya hadir di Dusun Wonolelo, sekitar tujuh kilometer barat Kota Magelang, untuk menonton pertunjukan festival pada malam kedua.

Selama tiga hari festival, hadir tiga kiai di Magelang, yakni pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo K.H. Muhammad Yusuf Chudlori, Jumat (10/8), pengasuh Ponpes Uhuludin Bawang, Kecamaan Salaman K.H. Mansyur Chadziq, Sabtu (11/8), dan pengasuh Ponpes Raudhatut Thullab Desa Wonosari, Kecamatan Tempuran K.H. Ahmad Labib Asrori, Minggu (12/8). Mereka memberikan wejangan religiusnya kepada masyarakat penonton festival.

Camat Bandongan Mulyatno, Kapolsek Bandongan AKP Gede Mahardika, dan Bati Bakti TNI Koramil 03/Bandongan Sersan Mayor Abdul Azis bahkan ikut dalam barisan kirab ratusan seniman dari kampung itu menuju panggung puncak pementasan di tengah persawahan.

Mereka bertiga juga beroleh kesempatan berpidato saat puncak festival yang juga diikuti para seniman dari dalam dan luar negeri. Kapolsek Mahardika selain menyatakan telah mengamankan festival agar lancar, juga mengkritik salah satu pementasan. Ratusan anggota Banser juga terlibat langsung dalam pengamanan festival, sebagaimana dengan ikhlas mereka lakukan pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Pegiat seni dari Lumajang, Jawa Timur Machrus Ali membawa tiga grup kesenian ke Festival Lima Gunung tahun ini. Sejak beberapa tahun terakhir ia "mengintip" kabar tentang festival dan kegiatan lain Komunitas Lima Gunung, terutama melalui medsos.

Tahun lalu, ia hadir sebagai tamu festival yang lokasinya di kawasan Gunung Merbabu. Tahun ini, ia memimpin para seniman dari tiga kelompok di Lumajang untuk mengikuti festival di Wonolelo, yakni Sanggar Tari 99 dengan karya berjudul "Tentang Rasa", Grup Sri Katon Makmur Jaya dengan tarian berjudul "Jaran Seneng", dan Sanggar Ayu Langgeng dengan karya tari berjudul "Bandol".

"Sampai kesasar ke Purworejo," ucap Machrus ketika bercerita tentang perjalanan dari Lumajang menuju lokasi festival.

Pengajar sosiolinguistik Jurusan Studi Komunikasi Internasional Universitas Akita Jepang Yosimi Miyake hadir menyaksikan pementasan pada puncak festival siang hari, sedangkan penulis Bre Redana membuat catatan budaya di salah satu kolom koran terkemuka Indonesia "Kompas" (12/8) dengan judul "Masih Goblok Bareng", sesuai dengan tema festival tahun ini.

Pada malam puncak festival juga hadir antropolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta P.M. Laksana dan mantan Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Hariyadi S.N. Mereka beroleh panggung yang diberi nama "Panggung Sawah" Festival Lima Gunung itu, untuk berpidato.

Festival Lima Gunung disebut salah seorang petinggi Komunitas Lima Gunung Sitras Anjilin sebagai kegiatan seni budaya yang mengumpulkan orang-orang gunung dan mereka yang mencintai perdamaian dengan harapan mencapai kebahagiaan.

"Tujuan hidup mencari kebahagiaan, inti bahagia adalah cinta kasih. Kalau kita tidak cinta, termasuk tidak cinta alam semesta, kita hilang bahagia. Dalam festival ini, kita mencoba menyadari cinta kasih itu kepada sesama, semesta, dan semua makhluk," ucap dia.

Kehadiran dan keterlibatan banyak orang, seperti mereka yang menyuguhkan karya seni, berpidato, berpameran, ikut kirab budaya, termasuk warga setempat yang menyiapkan penyelenggaraan festival, mengungkapkan kebahagiaan bersama sebagaimana diungkapkan Sitras.

Oleh karena itu, tema festival tahun ini, "Masih Goblok Bareng" yang sepertinya tidak lepas dari tema tahun lalu "Mari Goblok Bareng" dan mendapatkan apresiasi kuat dari budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) sebagai tema yang mencerahkan, mengajak semua orang merefleksikan kehidupan pribadi dan bersama.

Kiai Labib yang mantan Ketua DPRD Kabupaten Magelang dan sekarang pengampu Jamaah Kopdariyah Magelang dengan para pegiatnya yang lintas agama, suku, dan kelompok itu, mengemukakan pentingnya kerendahan hati, apalagi di hadapan Tuhan, supaya manusia selalu berkehendak baik untuk belajar kepada orang-orang yang lebih tahu.

Keagungan Yang Ilahi diungkapkan dalam pidatonya, bahwa kayu sebagai pena dan daun-daunan sebagai buku tak cukup mampu menjadi tempat menuangkan ilmu Allah SWT.

"Maka Indonesia ini banyak orang pinter tetapi korupsi. Pinter memang harus, tetapi juga sekaligus bener," ucap Labib yang pada akhir pidatonya memanggil Sutanto Mendut naik panggung untuk bersama-sama penonton menyanyikan lagu "Indonesia Tanah Air Beta"? (Ismail Marzuki).

Kesadaran manusia untuk selalu mendidik diri menjadi kebutuhan penting, terlebih pada era kekinian yang ditandai melesatnya perkembangan teknologi informasi dalam wujud internet dan perangkat gawai.

Tema "Masih Goblok Bareng" seakan menjadi tali kendali manusia untuk lebih rajin menambatkan refleksi atas kehadiran diri pada era kekinian. Kecenderungan orang bernarsis di samudra dunia maya memang menguat. Namun, tren penggunaan dunia maya secara sehat untuk tempat menabur kebaikan harus terus-menerus disematkan. Mungkin itulah salah satu bagian penting dari upaya membangun peradaban baru.

"(Tema `Masih Goblok Bareng, red.), supaya jangan merasa hanya mendidik orang lain, pihak lain, tetapi juga mendidik diri sendiri itu penting, menjadi kebutuhan. (Komunitas, red.) Lima Gunung juga belajar terus, mendidik diri sendiri," kata Sutanto Mendut.

Saat pidatonya itu, ia juga menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan dan kelemahan?komunitasnya dalam menyelenggarakan festival tahun ini. Selama tiga hari festival, ribuan orang dari berbagai tempat dan kalangan, termasuk luar Magelang serta luar negeri, hadir menonton.

Memang dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan anggota komunitasnya untuk rendah hati kepada siapa saja karena sikap itu bagian kekuatan menjalin semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Sikap rendah hati juga mengantarkan berbagai makna atas karya komunitas itu melalui seni, budaya, dan tradisi masyarakat gunung, menjadi panjang umur.

Seiring dengan rampungnya Festival Lima Gunung tahun ini, seorang petinggi komunitas, Riyadi, mengingatkan semua pegiat Komunitas Lima Gunung untuk menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf kepada siapa saja yang hadir dan terlibat festival, melalui akun media sosial masing-masing.

Ungkapan warga komunitas itu seakan menjadi pengantar mereka pulang, sebagaimana jajaran petinggi musyawarah pimpinan kecamatan setempat meninggalkan pementasan, setelah mendengarkan pidato budayawan Sutanto Mendut.

Setelah berfestival, mereka pulang ke rumah masing-masing, ke daerah masing-masing, ke komunitas masing-masing, ke pekerjaan masing-masing, dan kepada kehidupan sehari-hari masing-masing.

Mereka yang hadir dalam Festival Lima Gunung dan komunitas penyelenggara festival itu sendiri, diharapkan membawa pulang kenangan serta hikmah festival tahun ini. Pulang dengan gembira.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar