Mengantisipasi dampak kekeringan saat musim kemarau

id kekeringan

Mengantisipasi dampak kekeringan saat musim kemarau

Ilustrasi - Seorang petani mempersiapkan selang plastik untuk mengairi sawahnya yang mengalami kekeringan di Desa Bandingan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (22/6). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/ed/kye/15)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan sebagian besar wilayah di Provinsi Jawa Tengah akan memasuki musim kemarau mulai Juni 2018.

Tentu saja hal tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah daerah, karena dikhawatirkan ada wilayah yang mengalami dampak kekeringan dan krisis air bersih.

Misalkan saja, Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah sudah mulai memetakan wilayah mana saja yang rawan mengalami kekeringan.

Hal tersebut sebagai upaya antisipasi sekaligus guna mempersiapkan persediaan air bersih bagi masyarakat setempat yang membutuhkan.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas Prasetyo Budi Widodo mengatakan sejumlah wilayah di Banyumas yang diperkirakan mengalami kekeringan pada musim kemarau, antara lain Purwojati, Wangon, dan Cilongok.

Meski demikian, menurut perkiraan BPBD Banyumas, potensi kekeringan di wilayah-wilayah tersebut tidak bersifat menyeluruh.

Meskipun potensi kekeringan tidak bersifat menyeluruh, BPBD Banyumas telah menyiapkan sekitar 1.000 tangki air bersih guna mengantisipasi dampak musim kemarau mendatang.

Tangki air bersih itu untuk didistribusikan ke masyarakat di wilayah-wilayah Banyumas yang nantinya mengalami kesulitan air bersih karena kemarau dan karena menipisnya ketersediaan air di sumber air.

Sementara itu, upaya mengantisipasi kekeringan juga telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Antisipasi itu, khususnya kekeringan di lahan pertanian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Banjarnegara Totok Setya Winarno mengatakan pihaknya membuat beberapa embung untuk mengantisipasi musim kekeringan.

Pembuatan embung diprioritaskan di wilayah yang aliran sungai atau irigasinya lebih rendah daripada lahan pertanian yang ada.

"Contohnya ada wilayah yang masih memiliki aliran sungai dan irigasi saat kemarau, namun keberadaan aliran air masih di bawah dari lahan yang ada, sehingga air tidak dapat naik mengaliri lahan pertanian," katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, selain membuat embung, pihaknya juga akan mengupayakan bantuan pompa.

Harapannya, jika air dapat naik maka petani bisa mengolah lahan dengan memilih tanaman sesuai kebutuhan.

Solusi Kekeringan

Dosen Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Ardiansyah mengatakan pembuatan embung bisa menjadi salah satu solusi dalam mengantisipasi kekeringan di lahan pertanian.

Salah satu fungsi embung untuk menyimpan air permukaan dan pada akhirnya bisa menjadi salah satu upaya mendorong peningkatan produksi pertanian, terutama di lahan pertanian tadah hujan.

Bahkan, pembuatan embung lebih ekonomis bila dibandingkan dengan penggunaan pompa.

"Penggunaan pompa bisa sangat tidak ekonomis. Tapi kalau program pemerintah menggunakan pompa, artinya biaya akan ditanggung pemerintah, itu tidak masalah," kata dia.

Tentang langkah penggiliran air irigasi untuk mengairi lahan pertanian juga bisa diterapkan saat musim kemarau.

Pada musim kering, lahan yang dilalui saluran irigasi tidak bisa semuanya terlayani secara bersamaan, namun perlu penggiliran dan penggolongan.

Kebutuhan air, nantinya tergantung dari luas lahan pertanian sehingga perlu diketahui potensi suplai yang bisa digunakan.

Hal tersebut, termasuk di daerah dataran tinggi yang perlu dijajaki penggunaan air tanah untuk mengatasi kemungkinan terjadinya kekeringan.

Tujuannya, kata dia, agar distribusi air ke seluruh lahan pertanian bisa merata, meskipun pasokan air kemungkinan besar akan mengalami penurunan.

Kandati demikian, penggiliran air irigasi bisa sangat efektif pada saat musim kering karena kemungkinan besar seluruh wilayah pertanian akan bisa mendapat pasokan dari jaringan irigasi.

Menurut dia, pemetaan yang menyeluruh terkait daerah-daerah yang rawan mengalami kekeringan memang efektif sebagai salah satu upaya mengantisipasi berbagai dampak yang ditimbulkan.

Melalui pemetaan, dapat diketahui berbagai kondisi yang meningkatkan potensi kekeringan pada saat musim kemarau di suatu daerah. Misalkan saja, adanya faktor topografi. Ada daerah di lokasi yang tinggi namun sungai mengalir di lokasi yang lebih rendah.

Permasalahan kekeringan, kata dia, bukan hanya soal debit air sungai yang menurun, namun juga mengenai bagaimana membawa air dari sumbernya ke lokasi yang diinginkan.

Jika suatu wilayah berada di daerah yang lebih tinggi dari sumber air maka diperlukan teknologi untuk menaikkan air.

Kandati demikian, dia juga mengingatkan bahwa ada alternatif sumber air lainnya, selain sungai, yaitu mata air.

Mata air adalah air tanah dalam yang biasanya berlimpah dan kualitasnya bagus. Biasanya mata air muncul di pegunungan.

Yang perlu diperhatikan bahwa masalah kelangkaan air terkait erat dengan sumber air dan lokasi penyaluran.

"Apabila sumber air ada, penyaluran harus bisa menjangkaunya. Sementara bila sumber air tidak ada maka berarti krisis. Sumber air ada namun penyaluran sulit juga berarti krisis," katanya.

Dia menambahkan bahwa konsumsi air pertanian bisa mencapai 70 persen dari total kebutuhan air.

Jika air bersih krisis maka pertanian juga mengalami krisis.

Meskipun terkadang kekeringan tidak dapat dielakkan saat kemarau, upaya antisipasi yang disertai perencanaan secara sistematis bisa menjadi salah satu solusi mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar