bantaran BKT Semarang sisakan 800 bangunan

id banjir kanal timur

bantaran BKT Semarang sisakan 800 bangunan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya proyek normalisasi Sungai Kanal Banjir Timur, Kota Semarang. (Foto:ANTARAJATENG.COM/Wisnu Adhi N.)

Semarang, Antaranews Jateng - Dinas Perdagangan Kota Semarang menyebutkan sampai saat ini bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang masih menyisakan sekitar 800 bangunan yang belum dibongkar.

"Secara keseluruhan jumlah bangunan di bantaran Sungai BKT ada sekitar 3.500 bangunan. Yang sudah dibongkar 2.700 bangunan," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto di Semarang, Senin.

Menurut dia, bangunan-bangunan liar yang berdiri di bantaran sungai tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Genuk, Gayamsari, Semarang Utara, dan Semarang Timur yang mencakup 12 kelurahan.

Ia menyebutkan Dinas Perdagangan kebagian merelokasi bangunan liar tersebut yang merupakan tempat usaha, seperti di sepanjang Jalan Untara Raya Semarang, sementara hunian dari dinas lain.

"Kami menyelesaikan pembongkaran bangunan di bantaran Sungai BKT mulai Jembatan Majapahit ke utara sampai Jembatan Kartini. Menuntaskan pembongkaran yang dilakukan sejak Jumat (13/4) lalu," katanya.

Targetnya, kata dia, seluruh bangunan di bantaran Sungai BKT harus bersih hingga satu bulan setelah Lebaran tahun ini atau Juni 2018 seiring dengan proyek normalisasi sungai tersebut.

"Alhamdulillah, pembongkaran bangunan liar di bantaran Sungai BKT Semarang yang dimulai sejak pertengahan 2017 hingga kini berlangsung lancar, tidak ada kendala yang berarti," katanya.

Masyarakat, kata dia, juga mendukung normalisasi Sungai BKT Semarang yang sebagai upaya menanggulangi banjir dan rob sehingga proses pembongkaran bangunan liar berlangsung dengan lancar.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang ikut mendukung. Demikian pula Kepolisian Sektor Gayamsari Semarang yang mendukung, hingga kecamatan-kecamatan terkait," katanya.

Untuk relokasi, Fajar mengaku tidak memaksa semua pedagang kaki lima (PKL) di bantaran Sungai BKT untuk direlokasi ke Pasar Klithikan Penggaron, tetapi ditawarkan ke berbagai lokasi.

"Kami tidak memaksa semua penghuni bantaran Sungai BKT direlokasi ke Pasar Klithikan Penggaron, tetapi ditawarkan sesuai dengan domisili atau keinginan pedagang mau direlokasi ke mana," katanya.

Selain Pasar Klithikan Penggaron atau Pasar Barito Baru, kata dia, beberapa pasar menjadi lokasi relokasi, seperti Pasar Waru, Pasar Banjardowo, Pasar Dargo, Pasar Peterongan, dan Pasar Bulu.
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar