Logo Header Antaranews Jateng

Cuaca Buruk, Lelang Ikan di Juwana masih Ramai

Rabu, 29 November 2017 15:46 WIB
Image Print
Aktivitas lelang ikan hasil tangkapan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) II Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (29/11/2017) masih ramai, meskipun sejumlah nelayan lebih memilih menyandarkan kapalnya menyusul tingginya gelombang laut. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Pati, ANTARA JATENG- Kegiatan lelang ikan hasil tangkapan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada pekan ini masih ramai, meskipun sejumlah nelayan lebih memilih menyandarkan kapalnya menyusul tingginya gelombang laut.

Berdasarkan pantauan di TPI II Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Rabu, aktivitas bongkar ikan dari kapal untuk diangkut ke mobil boks masih terlihat, meskipun tidak seramai hari-hari sebelumnya.

Menurut Kepala TPI II Bajomulyo Riyanto di Pati, aktivitas lelang ikan untuk saat ini memang ada penurunan, mengingat jumlah kapal yang bersandar juga menurun.

Sebelum terjadi gelombang tinggi di laut, kata dia, jumlah kapal yang bersandar setiap harinya mencapai puluhan unit kapal dari berbagai ukuran.

Sementara saat ini, kata dia, jumlahnya berkurang menjadi 10-an unit kapal per harinya.

Bahkan, lanjut dia, pada bulan yang sama tahun 2016, setiap harinya berkisar 20-40 unit kapal yang bersandar di TPI II Bajomulyo, Juwana.

Terkait faktor pengurusan surat-surat kelengkapan berlayar, kata dia, sebelumnya memang dikeluhkan para nelayan, namun saat ini dimungkinkan mulai lancar.

"Kalaupun banyak nelayan yang tidak melaut, dimungkinkan karena faktor cuaca," ujarnya.

Bobot kapal yang biasa bersandar di TPI II Bajomulyo, kata dia, berkisar antara 30 gross ton (GT) hingga 200 GT yang merupakan kapal jenis pursine.

Warsono, salah seorang anak buah kapal (ABK) mengakui, untuk saat ini kapal tempat dirinya bekerja memang tidak berlayar karena gelombang tinggi.

Setiap bulan November, Desember, dan Januari, kata dia, memang sering terjadi gelombang tinggi.

"Dimungkinkan, kembali melaut setelah menunggu dua bulan," ujarnya.

Selama kapal bersandar, kata dia, dimanfaatkan untuk dilakukan perbaikan, sebelum nantinya berangkat melaut kembali.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026