Logo Header Antaranews Jateng

Pasokan Menipis, Harga Beras Medium Kembali Naik

Selasa, 19 September 2017 08:45 WIB
Image Print
Salah seorang pedagang di Pasar Manis, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (19/9/2017), Tatan menakar beras kualitas medium yang cenderung naik dalam beberapa pekan terakhir. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)

Purwokerto, ANTARA JATENG - Harga beras IR-64 kualitas medium di pasar tradisional kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali naik akibat pasokan gabah dari petani makin menipis.

"Sejak kemarin (18/9), harga beras IR-64 kualitas medium II naik dari Rp9.500 per kilogram menjadi Rp10.000/kg, kualitas medium I naik dari Rp10.000/kg menjadi Rp10.500/kg, sedangkan IR-64 poles naik dari Rp10.500/kg menjadi Rp11.000/kg," kata salah seorang pedagang beras, Tatan di Pasar Manis, Purwokerto, Selasa.

Padahal saat panen, kata dia, harga beras IR-64 medium II hanya sebesar Rp8.500/kg, medium I sebesar Rp9.000/kg, dan IR-64 polos Rp9.500/kg.

Menurut dia, kenaikan harga beras itu berlangsung secara bertahap seiring dengan menipisnya pasokan gabah dari petani.

"Saat ini, tempat-tempat penggilingan gabah sulit mendapatkan gabah dari petani karena masa panen di Banyumas telah berakhir dan hasil panennya merosot karena serangan wereng," jelasnya.

Ia mengaku jika biasanya mendapat pasokan beras dari penggilingan di atas 5 kuintal namun pada hari Senin (18/9) hanya menerima sebanyak 3 kuintal dan harganya telah naik.

Menurut dia, kenaikan harga beras dari penggilingan itu disebabkan pasokan gabahnya didatangkan dari daerah lain yang masih panen sehingga membutuhkan tambahan biaya transportasi.

"Oleh karena itu, saya akhirnya ikut menaikkan harga jual beras," katanya.

Disinggung mengenai harga eceran tertinggi (HET) beras yang diberlakukan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sejak tanggal 1 September 2017, Tatan mengatakan HET tersebut sulit diterapkan karena hingga saat ini, harga beras mengikuti mekanisme pasar.

Dalam hal ini, kata dia, harga beras akan turun ketika sedang panen namun setelah masa panen selesai, harganya akan naik secara bertahap dengan menyesuaikan ketersediaan gabah.

"Kalau barangnya (gabah, red.) sulit diperoleh, tentunya harga beras akan naik. Kemungkinan harga beras masih akan naik karena masa panen masih lama karena masa tanam padi diperkirakan paling cepat mulai akhir Oktober," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas (APB) Fatkhurrohman mengakui jika harga beras mengikuti mekanisme pasar karena tergantung pada ketersediaan pasokan gabah.

Menurut dia, saat sekarang masa panen di Banyumas telah berakhir dan stok gabah petani menipis sehingga harga beras beranjak naik.

"Apalagi produksi gabah petani mengalami penurunan akibat maraknya serangan hama wereng," katanya.

Terkait dengan HET beras, dia mengatakan hal itu sulit diterapkan karena sektor pertanian seperti beras banyak menghadapi kendala di antaranya faktor musim serta serangan hama dan penyakit tanaman yang berdampak pada penurunan produksi.

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan penerapan HET pada pupuk karena diproduksi menggunakan mesin sehingga jumlah produksinya pun bisa ditentukan.

"Kalau terjadi kendala produksi seperti kerusakan mesin, setelah mesinnya diperbaiki, produksinya bisa digenjot untuk memenuhi kuota," katanya.

Sementara untuk tanaman padi, kata dia, jika terserang hama akan berdampak pada penurunan produksi meskipun serangan hamanya dapat dikendalikan.

Demikian pula jika tanaman padinya terendam banjir dalam waktu lama, akan berdampak pada gagal panen.

"Sekarang kan terbukti, meskipun telah ada HET, harga beras tetap naik, bahkan melampaui HET karena stoknya berkurang," katanya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026