
BPJS Kesehatan Boyolali: Ribuan Peserta Masuk Risiko Tinggi

Boyolali, ANTARA JATENG - Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan cabang Boyolali menyatakan dari hasil catatan diagnosa sudah ada ribuan orang peserta BPJS yang masuk risiko tinggi penyakit diabetes dan ginjal.
"Kami mencatat ada 3.800 peserta BPJS kesehatan di Boyolali masuk risiko tinggi penyakit diabetes dan ginjal," kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Boyolali, Diding Lukmana di sela peluncuran Fitur "Mobile Screening" di Boyolali, Rabu.
Menurut dia angka resiko tinggi penyakit tersebut belum termasuk jenis lainnya, seperti jantung dan hipertensi.
Oleh karena itu, BPJS Kesehatan dengan peluncuran program Mobile Screening tersebut dapat membantu masyarakat untuk mengetahui riwayat kesehatannya atau gejala penyakit sejak dini, sehingga penyakitnya belum sampai ketahap kronis.
"Fitur layanan 'Mobile Screening' itu, semakin dini peserta BPJS akan mengetahui risiko kesehatannya lebih dini, sehingga semakin cepat upaya penanganan terhadap penyakitnya," katanya.
Oleh karena itu, kata Diding dengan program tersebut diharapkan jumlah penderita penyakit kronis dapat ditekan.
Menurut dia, masyarakat selama ini, kebanyakan baru sadar mereka mengidap penyakit ketika sudah mencapai fase lanjut. Pasien melakukan pengobatan jika penyakitnya sudah ke tahap kronis.
Oleh karena itu, kata dia, dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola resiko penyakit-penyakit kronis tersebut sejak dini, BPJS Ksehatan meluncurkan layanan mobile screening ini.
"Screening riwayat kesehatan merupakan penambahan fitur diaplikasi BPJS Kesehatan. Peserta Jaminan Kesehatan Nasional- Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sebelumnya hanya dapat melakukan screening riwayat kesehatan secara manual, tetapi peserta sekarang dapat diakses di handphonenya," katanya.
Ia mengatakan layanan fitur "mobile screening" tersebut selain untuk mempermudah layanan, juga mendorong kesadaran masyarakat untuk mengelola risiko atas penyakit-penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, gagal ginjal, dan jantung koroner.
Menurut Kepala Unit Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer BPJS Kesehatan Cabang Boyolali, Gallaeh Rama, untuk mengakses layanan program tersebut, peserta cukup mengunduh aplikasi BPJS Kesehatan Mobile melalui "Google Play Store".
Peserta BPJS Kesehatan kemudian melakukan registrasi dengan mengisikan data diri yang dibutuhkan, dan menu screening riwayat kesehatan yang terdiri dari 47 pertanyaan.
Menurut dia, melalui fitur screening tersebut akan ada jawabannya, yakni hasil ternyata termasuk risiko rendah, akan disarankan untuk terus menjaga pola hidup sehat.
Namun, peserta BPJS Kesehatan jika hasil screening terdeteksi memiliki potensi sedang atau tinggi, maka mereka akan memperoleh nomor legalisasi atau sekunder untuk diarahkan mengunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama atau rujukan ke rumah sakit.
Sekretaris Dinas Kesehatan Boyolali Agus Nandya berharap dengan program baru BPJS Kesehatan tersebut dapat membantu masyarakat Boyolali untuk mengetahui riwayat kesehatannya dengan mendeteksi penyakit lebih dini.
"Masyarakat akan terbantu dengan mengantisipasi penyakit sejak dini, sehingga mereka bisa hidup sehat," kata Agus.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
