Jembatan Ambrol, Dua Desa di Boyolali Terisolasi

id jembatan ambrol dua desa di boyolali terisolasi

Jembatan Ambrol, Dua Desa di Boyolali Terisolasi

Ilustrasi - Jembatan putus. (antaranews.com)

Boyolali, ANTARA JATENG - Jembatan penghubung Desa Bandung dengan Kedungpilang di Dusun Dukuh Bandung Kulon, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Jumat, ambrol diterjang banjir arus anak Sungai Serang.

Menurut Camat Wonosegoro Hari Haryanto, jembatan yang menghubungkan dua desa di Dusun Dukuh, Bandung Kulon Wonosegoro tersebut terputus akibat diterjang arus banjir yang terjadi sekitar pukul 12.30 WIB.

Ia mengatakan akibat terputusnya jembatan tersebut menyebabkan dua dusun yakni Dukuh Kulon Kali dan Cengklik Desa Bandung terisolasi.

"Jembatan itu merupakan akses jalan terdekat bagi warga sekitar. Kami bersama warga akan segera membuat jembatan darurat untuk akses jalan sementara," kata Hari.

Warga akan bergotong royong membuat jembatan darurat dari bahan kayu glugu atau batang kayu kelapa sepanjang sekitar 10 meter agar akses jalan untuk aktivitas warga kembali normal.

Ia menjelaskan hujan deras yang turun sejak Kamis (19/1) malam hingga Jumat siang menyebabkan arus air sungai anakan Serang tersebut mengalir sangat deras.

Bahkan, kata dia, derasnya air sungai terus menggerus badan jembatan sepanjang 25 meter dengan lebar tiga meter, hingga ambrol sepanjang sekitar enam meter.

"Warga langsung berinisiatif memberikan tanda batang bambu untuk menutup akses jalan dari dua sisi sebagai antisipasi terhadap pengguna jalan," kata Hari.

Kendati demikian, pihaknya setelah mengecek ke lokasi kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali untuk penanganan lebih lanjut.

"Kami juga mengimbau warga untuk tetap waspadai bencana banjir dan tanah longsor dampak cuaca ekstrim yang sering terjadi hujan turun dengan waktu cukup lama," katanya.

Selain itu, warga juga diminta jangan mendekati sungai yang arusnya deras saat banjir seperti jembatan yang ambor di Desa Bandung Kulon ini.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar