
Pohon Natal dari Tampah dan Kukusan

"Penggunaan tampah dan kukusan mengandung filosofi yang dalam," kata Koordinator Dekorasi Natal Gereja Katedral Kristus Raja Christian di Purwokerto, Selasa.
Ia mengatakan bahwa dalam budaya Jawa, kukusan dan tampah digunakan untuk mencetak serta membawa tumpeng.
Menurut dia, tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud ucapan selamat atas suatu peristiwa.
Sementara tampah digunakan untuk menampi beras atau membersihkan beras dari kotoran sebelum dicuci dan dimasak.
"Atas dasar filosofi sederhana ini, maka tampah dipilih sebagai bahan utama untuk pembuatan pohon natal tahun ini," jelasnya.
Ia mengatakan bahwa pohon natal tersebut sebagai persembahan dari umat paroki Katedral Kristus Raja atas kelahiran Yesus di dunia yang membawa pembebasan atas dosa.
Dalam hal ini, dia mengibaratkan umat Kristiani seperti beras yang ditampi, karena lewat kelahiran Yesus bisa menjadi bersih kembali dan terlepas dari dosa.
Lebih lanjut, Christian mengatakan bahwa proses pembuatan pohon natal setinggi 8 meter itu membutuhkan waktu dua minggu.
"Adapun untuk merangkai pohon natal direncanakan selesai dalam lima hari mulai Senin (21/12)," katanya.
Ia mengatakan bahwa pembuatan pohon natal raksasa itu memerlukan sedikitnya 120 buah tampah dan 20 buah kukusan.
Menurut dia, pihaknya melibatkan seluruh umat paroki dalam pembuatan pohon natal tersebut.
"Setiap lingkungan diminta menghias dan mewarnai tampah dan kukusan. Keseluruhan ada 20 lingkungan, kemudian dikumpulkan di gereja dan dirangkai menjadi satu," katanya.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Kliwon
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
