Logo Header Antaranews Jateng

Harga Kedelai Rak terpengaruh Kenaikan BBM

Rabu, 8 April 2015 18:50 WIB
Image Print
ilustrasi

"Penurunan harga jual kedelai impor tersebut terjadi sejak dua hari lalu," kata Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma'ruf di Kudus, Rabu.

Meskipun ada kenaikan harga jual BBM, kata dia, biaya transportasi untuk mendistribusikan kedelai dari Semarang ke Kudus juga tidak ada perubahan karena per kilogramnya sebesar Rp72.

Selain tidak terpengaruh dengan kenaikan harga jual BBM, kata dia, turunnya harga jual kedelai impor juga tidak terpengaruh dengan nilai tukar rupiah yang saat ini cenderung tinggi.

Bahkan, lanjut dia, ketika nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp13.000 per dolar AS, harga jual kedelai impor justru cenderung turun secara bertahap.

Meskipun harga jual kedelai turun, lanjut dia, transaksi penjualannya masih tetap stabil dengan permintaan berkisar 15 ton hingga 20 ton per hari.

Sementara jumlah pengusaha tahu dan tempe di Kudus mencapai 300-an pengusaha.

Selain memiliki stok kedelai impor sebanyak 60 ton, kata dia, Primkopti Kudus juga memiliki stok kedelai lokal sebanyak 17 ton.

Pasokan kedelai lokal tersebut, lanjut dia, berasal dari Madura, Jawa Timur.

Harga jual kedelai lokal saat ini, kata dia, hampir sama dengan kedelai impor sebesar Rp6.900 per kilogramnya.

"Biasanya, kedelai lokal hanya dijadikan bahan campuran karena selama ini ketersediaannya memang tidak bisa terjaga seperti halnya kedelai impor," ujarnya.

Adapun kenaikan harga BBM bersubsidi jenis premium per 28 Maret 2015 awalnya sebesar Rp6.800 per liter, kini naik menjadi Rp7.300 per liter dan solar naik menjadi Rp6.900/liter dari sebelumnya hanya Rp6.400/liter.



Pewarta:
Editor: hernawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026