"Salah satu rekayasa lalu lintasnya kan memberlakukan kebijakan di Gombel Baru yang semula dua lajur menjadi satu lajur, sementara lajur satunya lewat jalan Gombel Lama," katanya di Semarang, Selasa.

Menurut politisi Partai Demokrat itu, pemberlakuan kebijakan satu arah di Jalan Setiabudi (Gombel Baru, red.) sayangnya tidak diiringi kesiapan, seperti jalur penyelamat, penerangan, dan rambu lalu-lintas.

Ia menjelaskan DPRD Kota Semarang juga belum melihat kajian secara utuh berkaitan dengan pemberlakuan kebijakan satu arah di Gombel Baru sehingga jika diterapkan tentunya akan sangat berisiko.

"Saya sendiri sebagai pengguna jalan yang setiap berangkat kerja selalu lewat Gombel. Sejauh ini, saya melihat belum ada kebutuhan mendesak untuk menjadikan jalur Gombel Baru hanya satu arah," katanya.

Apalagi, kata dia, jalan Gombel Lama yang menurun curam belum ada jalur penyelamat untuk mengantisipasi kecelakaan, semisal rem "blong", sementara di Gombel Baru yang sudah ada jalur penyelamatnya.

Semestinya, ia menjelaskan langkah yang perlu difokuskan pada kesiapan proyek pembangunan "underpass" Jatingaleh yang rencananya dimulai awal 2015, sebab simpul kemacetan sebenarnya di kawasan Jatingaleh.

"Kalau memang mau diberlakukan satu arah di Gombel Baru, seharusnya disiapkan dulu sarana-prasarana pendukungnya. Sementara ini, fokus dulu pada kesiapan proyek 'underpass' Jatingaleh," katanya.

Berkaitan dengan seringnya kecelakaan di kawasan Gombel Baru, Fajar mengatakan sebenarnya lebih pada faktor "human error", seperti sopir mengantuk, kecepatan tidak terkontrol, dan kondisi kendaraan.

"Untuk meminimalisir kecelakaan, harusnya ditempatkan petugas kepolisian di situ. Kalau ada pengemudi melewati batas kecepatan bisa segera ditindak. Rambu-rambu lalu lintas harus diperbanyak," katanya.

Seperti diwartakan, rekayasa lalu-lintas, salah satunya menjadikan Gombel Baru satu arah yang diuji coba mulai Selasa (13/5) ini sebagai rencana jangka pendek untuk mengurangi kemacetan di kawasan Jatingaleh.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau kawasan Jatingaleh, Kamis (8/5), menjelaskan semua kendaraan yang keluar dari jalan tol atau Jalan Jatingaleh I diarahkan ke Jalan Setiabudi (Gombel Baru).

"Jalan Setiabudi atau Gombel Baru dibuat menjadi satu arah. Sementara, kendaraan dari arah Selatan (Solo-Yogyakarta) diarahkan lewat Gombel Lama sehingga bisa mengurangi kepadatan arus kendaraan," katanya.

Untuk proyek "underpass" Jatingaleh, ia mengatakan sebagai proyek jangka panjang untuk mengurangi kemacetan yang pengerjaannya akan dimulai pada 2015, setelah tahap pembebasan lahan rampung.

"Pembangunan 'underpass' Jatingaleh akan menggunakan anggaran dari APBN, Pemprov Jateng, dan Pemkot Semarang. Diharapkan, pada 2016 mendatang kita sudah punya 'underpass'," pungkas Ganjar.