Banyumas (ANTARA) - Penggagas sekaligus Direktur Artistik "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026" Rianto menargetkan ajang seni budaya tersebut dapat berkembang menjadi ikon wisata budaya Banyumas dan masuk dalam Kalender Even Nusantara (KEN) pada tahun-tahun mendatang.

"Saya berharap Banyumas Ngibing 24 Jam Menari ini menjadi salah satu ikon agenda di Kota Lama Banyumas, sekaligus memperkenalkan potensi wisata dan budaya yang ada di kawasan ini," katanya di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu.

Menurut dia, penyelenggaraan tahun 2026 merupakan pelaksanaan kedua dan menghadirkan sejumlah pembaruan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun ini, kata dia, panitia melibatkan para pelukis dari Banyumas dan Purbalingga yang tergabung dalam sebuah komunitas untuk menghadirkan pertunjukan melukis bersama sebagai bagian dari rangkaian acara.

Selain itu, kegiatan utama berupa tari maraton selama 24 jam juga kembali digelar dengan melibatkan penari dari berbagai daerah, di antaranya dari Sumenep, Jakarta, dan Tangerang.

Ia mengatakan salah satu penari dari Amerika Serikat Ari Dharminalan Rundeko, semula dijadwalkan hadir sejak awal acara, namun kedatangannya tertunda, karena kondisi kesehatan setelah sebelumnya mengikuti agenda seni di Solo.

Dalam hal ini, Ari Dharminalan Rundeko semula direncanakan turut menari selama 24 jam nonstop bersama dua penari utama lainnya, yakni Sri Cicik Handayani dari Sumenep (Jawa Timur) dan Baltazar Oka Reskir dari Tangerang (Banten)

"Alhamdulillah, acara sudah dibuka dan antusiasme masyarakat sangat baik. Ini menjadi pijakan bagi Banyumas Ngibing untuk berkembang ke depan," kata Maestro Lengger Banyumas itu.

Lebih lanjut, ia mengatakan kegiatan tersebut melibatkan hampir 1.000 penari, lebih dari 150 pertunjukan, serta 85 komunitas seni dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Komunitas yang terlibat berasal dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Sumenep, Yogyakarta, Surakarta, wilayah Banyumas Raya, hingga sejumlah negara, seperti Jepang, Kazakhstan, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.

Menurut dia, tema yang diangkat pada tahun ini adalah "Beragam Jiwa-Jiwa yang Menyatu dalam Bumi", yang menggambarkan pertemuan berbagai identitas budaya dari berbagai daerah dan negara yang dipersatukan di bumi Banyumas.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal Banyumas, seperti lengger, ebeg, cedungan, dan berbagai tradisi lainnya, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur budaya Banyumas.

Rianto berharap dukungan masyarakat dan berbagai pihak dapat mendorong "Banyumas Ngibing" masuk dalam Kalender Even Nusantara, sehingga mampu memperkuat posisi Banyumas sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia.

Baca juga: Siti Mukaromah : "Banyumas Ngibing" jadi penggerak wisata budaya